jendela merah.

tidak sekadar kayu yang membingkai, jendela merah itu saksi. menatap langkah-langkahmu yang pergi merantau. walaupun menganga lebar, bibirnya yang ranum bisu. ia tak berani bersuara. mungkin hanya kanopinya yang kuyup, berurai air mata titipan langit.

setelah waktu menjarak, jendela merah itu kembali menjadi saksi.
mana binar mata yang dulu kaubawa?

ingin jendela merah berteriak. tidak terima menerima  hampa pandangmu. bukannya aku tak senang dirimu kembali. tetapi rupanya dirimu yang dulu pecah berkeping setelah mencuci hati di sungai keruh.

katamu merah itu menarik hati. tapi apakah kamu mengerti merahnya darah dari luka ini?

Komentar

Postingan Populer