[#29/37] take and give.

Kemarin malam, setelah evaluasi kegiatan liburan anak-anak di Gunung Kareumbi, aku dan para panitia melanjutkan obrolan yang ternyata semakin seru. Sudah lama tidak mengobrol hingga larut ngalor ngidul. Ujung-ujungnya kita mengerucut pada satu perbincangan menarik, tentang motivasi seseorang memasuki sebuah komunitas. Juga tentang keruntuhan satu komunitas -sebagian besar organisasi non komersil dengan idealisme tertentu- yang sering kali runtuh karena orang-orangnya, bukan karena idealismenya.

Ada satu hal yang sudah lama membuat aku bertanya-tanya, apa dasar seleksi alam seseorang bertahan pada satu komunitas. Apa yang mulai menggerogoti suatu komunitas hingga sedikit demi sedikit keropos?

Apakah karena mimpi atau idealisme yang tidak sama? Tidak sepenuhnya betul. Karena mungkin masih ada orang-orang yang mencari apa mimpinya ketika ia masuk situ. Ketika idealisme yang berbeda itu bisa beriringan tidak masalah, tetapi kalau memang bertolak belakang, apa boleh buat.

Masih wajar.

Ternyata, masih ada satu lagi jawaban yang mendasar. Sangat sederhana. Motivasi 'take and give', mengambil dan memberi.

Sekarang tampaknya semakin banyak orang yang masuk satu komunitas, karena hanya sekadar ingin mendapatkan sesuatu. Yang paling ngetrend sekarang, motivasi untuk 'menuh-menuhin CV' atau mendapat sertifikat, yang ujung-ujungnya untuk kepentingan pribadi. Jadi apa yang dilakukan hanya sekadar 'melakukan', tidak menggunakan hati. Tidak ada hasrat dan semangat. Energinya juga beda. Dan ketika ia sudah tidak dapat mengambil apa-apa dari situ, keluarlah ia. Tidak ada motivasi lain.

Kalau ia mencari komunitas yang sesuai dengan dirinya karena ia memberi sesuatu, biasanya lebih betah berlama-lama dan berkontribusi di komunitas tersebut. Bahkan dengan dedikasi yang tidak diragukan lagi, terlebih lagi hasrat dan energinya menular pada orang-orang sekitar. Dengan niat baik memberi sesuatu untuk orang lain, ia mungkin tidak berharap banyak, tetapi malah mendapat jauh lebih banyak dari apa yang ia bayangkan.

Yang membuat komunitas itu keropos adalah orang-orang yang hanya berharap menerima. Tidak ada niat untuk memberi. Dan memang, ketika 'take and give' ini sudah tidak seimbang, mental juga orang-orang dari komunitas tersebut.

Sekarang, bagaimana kita mengetahui niatan seseorang masuk komunitas supaya menjaga komunitas itu tidak keropos? Karena semakin hari tampaknya semakin lihai orang bertopeng :p

Ah, kalau aku jadi HRD perusahaan, aku sudah tidak percaya lagi dengan CV dan sertifikat berlembar-lembar.

Komentar

Postingan Populer