rel kereta dan kopi hitam.

rel kereta.

rel kereta itu sebuh titian panjang untuk satu perjalanan. bukan perjalananku, bukan perjalananmu. perjalanan kita. 

kopi hitam.

kesukaanku, kesukaanmu. dan kita selalu berbagi.

ingat? di atas rel itu ada satu bincang panjang lebar tentang kita. kita yang tak pernah kauwujudkan. kita yang senang sesaat lalu hilang. entah menguap oleh waktu. mungkin juga tenggelam oleh jenuh. rel panjang itu berujung, sama seperti pembicaraan kita. terminal keberangkatan adalah perkenalan kita. dan titik terminal akhir adalah kamu yang tibatiba tak kukenal.

di atas rel itu ada kopi hitam yang menjadi saksi. secangkir saja. mungkin ia menguping pembicaraan kita, dan ia larutkan semuanya pada asap yang menarinari. bisa jadi ia ingin ikut memberi pendapat, tapi tak didengar. katakatanya menjadi endapan hitam pada dasar cangkir kertas, lalu kita tinggal begitu saja.

ah, mungkin kamu menganggap mimpi kita hanyalah segelas kopi hitam itu. habis direguk. rasanya tinggal di lidah dalam hitungan menit. lalu kita tinggal. satu dua saat, lupa.

salah, kamu yang meninggalkannya duluan. kamu yang membuangnya dari ingatan.

cangkir kopi berikut masih ada. bukan untukmu. tapi untuk dia yang membuatku terjaga seperti kafein yang tersisa dalam bulir darah. lari ke jantung, lalu membuat mimpi menjadi wujud.

Komentar

Postingan Populer