[#1/37] sabar diri.
Apakah sabar pada diri ini mudah? Pernahkah kita mengukurnya?
Apakah lebih mudah dari bersikap sabar terhadap orang lain? Terhadap situasi di sekitar kita?
Terima kasih untuk Kak Marisa, seorang psikolog yang sering membantu sekolahku, untuk mengingatkanku akan hal ini. Pagi tadi Kak Marisa ini menjadi pengisi materi pertemuan orang tua, yang kali ini membahas tentang bagaimana orang tua bisa mengoptimalkan pendampingan anak. Di tengah banyaknya pembahasan, sabar diri menjadi satu hal yang cukup 'menyentak'.
Mampu bersabar diri itu tidak semudah yang aku bayangkan. Setelah banyak hal dilalui, teringat bahwa aku sering kali tidak sabar pada diriku. Tidak sabar pada proses yang harus aku lalui.
Salah satu contohnya?
Melihat orang atau temenku lihai memainkan piano, apalagi hingga taraf improvisasi jazz, ingin langsung bisa. Kadang aku lupa, bahwa orang yang aku lihat itu tidak hanya menjentikkan jari lalu bisa. Aku baru menyadari sebuah proses ketika mengobrol dengan orang yang bersangkutan dan mendengar berapa lama waktu yang ia luangkan untuk latihan juga seberapa keras usaha yang ia keluarkan untuk mengulik lagu.
Semua perlu proses, dan terkadang ketidaksabaran melalui semuanya justu semakin menjauhkan kita dari mimpi yang diraih.
Selain yang di atas, masih banyak ketidaksabaran diri untuk hal lainnya. Memasak yang sulit langsung enak. Menulis langsung bagus, dan sebagainya.
Berterimakasihlah pada merajut.
Merajut adalah salah satu hal yang mengajariku sabar diri. Bahwa setiap hasil rajutan melalui ratusan kaitan benang. Mungkin hingga ribuan simpul benang. Ketika kita lengah, kita harus 'tega' pada diri sendiri membongkar apa yang salah untuk mendapatkan sebuah hasil yang 'memuaskan' untuk kita.
Aku bisa mewujudkan mimpi hanya melalui puluhan, ratusan kerja keras. Ribuan titik keringat. Belajar dari simpul-simpul yang salah, berani untuk mengakui dan 'membongkar' kaitan tersebut.
Oh, mudahkah itu?
Masih belajar dan terus untuk terus merajut waktu, juga usaha, untuk sebuah mimpi.
Semoga masih terus punya kesadaran untuk terus bersabar diri.
.
Apakah lebih mudah dari bersikap sabar terhadap orang lain? Terhadap situasi di sekitar kita?
Terima kasih untuk Kak Marisa, seorang psikolog yang sering membantu sekolahku, untuk mengingatkanku akan hal ini. Pagi tadi Kak Marisa ini menjadi pengisi materi pertemuan orang tua, yang kali ini membahas tentang bagaimana orang tua bisa mengoptimalkan pendampingan anak. Di tengah banyaknya pembahasan, sabar diri menjadi satu hal yang cukup 'menyentak'.
Mampu bersabar diri itu tidak semudah yang aku bayangkan. Setelah banyak hal dilalui, teringat bahwa aku sering kali tidak sabar pada diriku. Tidak sabar pada proses yang harus aku lalui.
Salah satu contohnya?
Melihat orang atau temenku lihai memainkan piano, apalagi hingga taraf improvisasi jazz, ingin langsung bisa. Kadang aku lupa, bahwa orang yang aku lihat itu tidak hanya menjentikkan jari lalu bisa. Aku baru menyadari sebuah proses ketika mengobrol dengan orang yang bersangkutan dan mendengar berapa lama waktu yang ia luangkan untuk latihan juga seberapa keras usaha yang ia keluarkan untuk mengulik lagu.
Semua perlu proses, dan terkadang ketidaksabaran melalui semuanya justu semakin menjauhkan kita dari mimpi yang diraih.
Selain yang di atas, masih banyak ketidaksabaran diri untuk hal lainnya. Memasak yang sulit langsung enak. Menulis langsung bagus, dan sebagainya.
Berterimakasihlah pada merajut.
Merajut adalah salah satu hal yang mengajariku sabar diri. Bahwa setiap hasil rajutan melalui ratusan kaitan benang. Mungkin hingga ribuan simpul benang. Ketika kita lengah, kita harus 'tega' pada diri sendiri membongkar apa yang salah untuk mendapatkan sebuah hasil yang 'memuaskan' untuk kita.
Aku bisa mewujudkan mimpi hanya melalui puluhan, ratusan kerja keras. Ribuan titik keringat. Belajar dari simpul-simpul yang salah, berani untuk mengakui dan 'membongkar' kaitan tersebut.
Oh, mudahkah itu?
Masih belajar dan terus untuk terus merajut waktu, juga usaha, untuk sebuah mimpi.
Semoga masih terus punya kesadaran untuk terus bersabar diri.
.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..