[cinta#3] mencintai atau dicintai?
[tjatatan mbak dan] Masih dalam seri tulisan tentang cinta. Sebuah bentuk tulisan dari obrolan santai aku, Mita, Saska, dan Mufti di suatu sore yang berlanjut sampai malam.
...
Pertanyaan yang bolak balik berseliweran di sekitarku, dan kadang-kadang nyampe juga ke aku, "milih mana, dicintai atau mencintai?". Hampir sebagian besar menjawab yang pertama. Dicintai. Dan aku sendiri? Hm, dari pertama pertanyaan ini muncul sampai sekarang, aku pilih yang kedua. Mencintai.
Dicintai? Dicintai itu cenderung pasif. Kita jadi objek. Kita hanya menerima cinta yang diberikan orang lain. Katanya kalau kita lebih memilih dicintai, kita cenderung manja, cenderung menerima tanpa mau bersusah payah. Kalau kata Mufti, dicintai ini ikhlasnya lebih besar karena kita harus berbesar hati menerima apa yang dikasih ke kita dan ‘melepaskan’ apa yang kita inginkan. Kenapa pilih dicintai? Bisa karena pertimbangan supaya kita ngga perlu mengeluarkan banyak energi, bisa karena menjaga hati orang lain yang mencintai, atau tidak mau menyakiti orang lain. Banyak lah, pasti selalu ada alasan untuk ini. Dengan memilih dicintai, kita tidak banyak melakukan proses pada diri kita sendiri sampe titik yang kita tuju, selain ikhlas menerima apa yang diberikan.
Lebih baik mana, mencintai apa dicintai? Jawabannya sangat subjektif. Buat aku pribadi, lebih baik mencintai. Apakah mencintai duluan itu hanya hak cowo dan kemudian cewe dicintai? Ngga juga. Ini mungkin akibat dari ‘nilai-nilai’ yang ada di budaya kita. Cowo yang ngejar, cewe tinggal nerima aja. Tapi tidak selamanya seperti itu. Ada juga kok cewe yang memilih untuk mencintai duluan. Ngga salah kan? Hak asasi manusia untuk memilih siapa yang ia cintai.
Mencintai? Mencintai itu lebih aktif karena kita yang jadi subjek. Kita pelaku dalam bagaimana kita mengekspresikan diri. Kita memperjuangkan apa yang kita anggap paling baik untuk kita. Buat aku, orang-orang yang lebih memilih mencintai ini lebih kuat, lebih tegar, karena mereka siap berjuang mendapatkan sesuatu yang membuatnya bahagia. Lebih banyak yang harus ‘diurus’ di sini. Mereka yang harus menyiapkan ‘bahan bakar’ karena mereka yang akan memberikan energinya. Siap mental untuk maju, siap ditolak, mengantisipasi hal-hal diluar perhitungan, mempersiapkan ‘strategi’, dan masih banyak hal lain yang dipertimbangkan. Mereka lebih mempersiapkan diri lahir dan batin untuk mencintai. Ada juga yang bilang, memilih mencintai itu suatu bentuk lebih bersyukur sama hidup karena kita sadar dengan apa yang kita punya sehingga kita dapat membaginya untuk orang lain.
Orang dulu bilang, cinta itu bisa timbul bila ditumbuhkan. Witing trisna jalaran saka kulina, begitu orang Jawa bilang. Cinta tumbuh karena terbiasa. Kita bisa belajar mencintai seseorang yang awalnya tidak kita cintai. Buktinya banyak orang dulu yang menikah dijodohkan, tapi baik-baik saja sampe kakek nenek, sampai meninggal.
Buat aku, tiap orang pasti punya dua-duanya. Tiap orang berhak atas dua-duanya. Rasa mencintai dan dicintai. Tidak ada batas gender untuk mencintai dan dicintai. Tapi memang terkadang ada satu kondisi tertentu yang membuat sebuah kecenderungan lebih memilih mencintai atau dicintai. Kadarnya tiap orang berbeda-beda.
So, kamu pilih mana? Mencintai atau dicintai?
...
Pertanyaan yang bolak balik berseliweran di sekitarku, dan kadang-kadang nyampe juga ke aku, "milih mana, dicintai atau mencintai?". Hampir sebagian besar menjawab yang pertama. Dicintai. Dan aku sendiri? Hm, dari pertama pertanyaan ini muncul sampai sekarang, aku pilih yang kedua. Mencintai.
Dicintai? Dicintai itu cenderung pasif. Kita jadi objek. Kita hanya menerima cinta yang diberikan orang lain. Katanya kalau kita lebih memilih dicintai, kita cenderung manja, cenderung menerima tanpa mau bersusah payah. Kalau kata Mufti, dicintai ini ikhlasnya lebih besar karena kita harus berbesar hati menerima apa yang dikasih ke kita dan ‘melepaskan’ apa yang kita inginkan. Kenapa pilih dicintai? Bisa karena pertimbangan supaya kita ngga perlu mengeluarkan banyak energi, bisa karena menjaga hati orang lain yang mencintai, atau tidak mau menyakiti orang lain. Banyak lah, pasti selalu ada alasan untuk ini. Dengan memilih dicintai, kita tidak banyak melakukan proses pada diri kita sendiri sampe titik yang kita tuju, selain ikhlas menerima apa yang diberikan.
Lebih baik mana, mencintai apa dicintai? Jawabannya sangat subjektif. Buat aku pribadi, lebih baik mencintai. Apakah mencintai duluan itu hanya hak cowo dan kemudian cewe dicintai? Ngga juga. Ini mungkin akibat dari ‘nilai-nilai’ yang ada di budaya kita. Cowo yang ngejar, cewe tinggal nerima aja. Tapi tidak selamanya seperti itu. Ada juga kok cewe yang memilih untuk mencintai duluan. Ngga salah kan? Hak asasi manusia untuk memilih siapa yang ia cintai.
Mencintai? Mencintai itu lebih aktif karena kita yang jadi subjek. Kita pelaku dalam bagaimana kita mengekspresikan diri. Kita memperjuangkan apa yang kita anggap paling baik untuk kita. Buat aku, orang-orang yang lebih memilih mencintai ini lebih kuat, lebih tegar, karena mereka siap berjuang mendapatkan sesuatu yang membuatnya bahagia. Lebih banyak yang harus ‘diurus’ di sini. Mereka yang harus menyiapkan ‘bahan bakar’ karena mereka yang akan memberikan energinya. Siap mental untuk maju, siap ditolak, mengantisipasi hal-hal diluar perhitungan, mempersiapkan ‘strategi’, dan masih banyak hal lain yang dipertimbangkan. Mereka lebih mempersiapkan diri lahir dan batin untuk mencintai. Ada juga yang bilang, memilih mencintai itu suatu bentuk lebih bersyukur sama hidup karena kita sadar dengan apa yang kita punya sehingga kita dapat membaginya untuk orang lain.
Orang dulu bilang, cinta itu bisa timbul bila ditumbuhkan. Witing trisna jalaran saka kulina, begitu orang Jawa bilang. Cinta tumbuh karena terbiasa. Kita bisa belajar mencintai seseorang yang awalnya tidak kita cintai. Buktinya banyak orang dulu yang menikah dijodohkan, tapi baik-baik saja sampe kakek nenek, sampai meninggal.
Buat aku, tiap orang pasti punya dua-duanya. Tiap orang berhak atas dua-duanya. Rasa mencintai dan dicintai. Tidak ada batas gender untuk mencintai dan dicintai. Tapi memang terkadang ada satu kondisi tertentu yang membuat sebuah kecenderungan lebih memilih mencintai atau dicintai. Kadarnya tiap orang berbeda-beda.
So, kamu pilih mana? Mencintai atau dicintai?

Mencintai vs Dicintai?!? Pilihan yg amat sangat sulit.. semua balik lagi ke hati nurani, sikon 'n kesiapan hati&diri 'tuk nerima konsekuensi dari pilihan yg kita ambil. Smoga gak kan pernah ktemu pertanyaan ini lagi.. Amiien:) Karena Dicintai, tanpa keikhlasan tuk menerimanya, yg ada mungkin malah akan melukai diri sendiri n parahnya melukai orang yg mencintai kita. Sementara mencitai tanpa dicintai... hmm, sama gak enaknya. bisa2 makan ati..hehe. Pada akhirnya tetep kudu 'saling', kecuali cinta dlm definisi yg laen.. cinta org tua ma anaknya dan cinta abadi Allah pd para hambanya..cinta yg terkadang hanya searah tp kekal slamanya.
BalasHapushmmm.. mungkin bukan 'Smoga gak kan pernah ktemu pertanyaan ini lagi..' tapi 'semoga kalo ketemu pertanyaan ini lagi, udah tau mau jawab apa..' hehehe.. mencintai tanpa berharap dicintai itu salah satu belajar untuk ikhlas juga bukan mbak? karena kita kan jadi tanpa pamrih? makan ati sih, tapi kalo niatnya udah bulet, dan dari awal udah nothing to loose dan tidak berharap apa2, it will be fine kok :)
BalasHapusbuat aku yang masih harus belajar itu mencintai diri sendiri. soalnya merasa masih ngga 'utuh' mencintai diri sendiri. tidur ngga bener, makan ngga bener, kerja diforsir, mau sakit dicuekin.. padahal sebelum kita mencintai orang lain kan kita harus mencintai diri kita sendiri dengan bijak dulu.. hehehe, gimana?
Mbak Dan, menurutku dua hal ini nggak bisa dijadikan pilihan, karena yang satu nggak bisa digantikan dengan yang lain. Kadar ikhlas dan keberanian yang dibutuhkan sama-sama besarnya. Tapi, kalau memang harus memilih, aku pilih yang dicintai. Nggak perlu pake alesan kan? hehehe :p
BalasHapusastri.. kan udah aku tulis di atas. seandainya memilih, lebih pilih yang mana, mencintai atau dicintai. ngga mutlak, tapi kecenderungan. dan itu hak semua orang mau yang mana :D ngga perlu alesan? hmmm.. pasti ada nih alesannya.. hihihi :p
BalasHapusmencintai kan untuk dicintai mbak danst? (menurut teori eksistensialism sih)
BalasHapusdi tulisan sebelumnya katanya ga boleh bertepuk satu tangan, jadi sepakat ama astri (bu widy).. itu paket.
hoho.. memang pengennya begitu mas bondan, mencintai untuk dicintai.
BalasHapustapi ngga selalu begitu, dan ga harus begitu kan?
belajar untuk 'nothing to loose' dan ikhlas..
you will get more wonderful things in return, something you never thought before!
it happened to me many times.. and it's really nice. yang penting jangan abaikan hati, just follow your deepest heart. ga akan ada yang perlu disesalkan kok mas bond :D
kalau cara pandang independen-individualistik ya mending mencintai. actualize (one)self all out. berbahagia dengan memberi. setelah itu, matipun tak ada takutnya. tidak mengharap dan menunggu sia-sia. kalau dibalas ya alhamdulillah sih. hihihii
BalasHapusiya betul mbak lilyaa.. all out. ngga ngarep duluan. action better than waiting. kuncinya tulus. iklhas.
BalasHapus