nulis yuk.
"Dan, lu harus bikin buku. Ayolah.. Mau dikemanain itu tulisan-tulisan lu?"
Wah, aku ngga nyangka pernyataan di atas itu terucap dari seorang teman. Buat aku menulis itu hanya sekadar membersihkan 'sampah-sampah' di otak. Hal-hal yang bermunculan, lalu lalang kadang tidak kenal waktu, dengan topik yang juga loncat-loncat. Sesaat memikirkan A, tengah dipikirin, yang lain muncul. Begitu seterusnya. Buruknya, tiap hal yang dipikirkan ini sering kali ngga tuntas. Ya begitu lah, seperti busa sabun yang gelembungnya berhamburan, dan tiba-tiba pecah. Karena sering kali hilang dan cepat hilang itu, makanya harus ditulis.
Yang repot dan parahnya yang sering terjadi adalah, si balon-balon itu muncul justru saat mau tidur. Ketika titik kesadaran nyaris di titik nol, berjalan ke alam mimpi. Kalau ngga ditulis, idenya ilang. Kalo sengaja bangun dan ditulis tangan, keburu pegel. Kalo mau buka laptop dulu trus nulis, yang ada malah ngga tidur. Sekali dua kali, boleh lah bangun, buka dulu laptop, nyalain, trus diketik. Paling hanya tulisan-tulisan pendek yang kadang ngga tau ke mana juntrungannya. Tapi sekali nulis bisa belasan hal yang ditulis.
Satu saat kalau lagi ngga ada kerjaan, tulisan-tulisan pendek yang ngga jelas juntrungannya inilah yang diterusin. Kadang bingung juga, ngga nyangka dan ngga inget kalau aku pernah nulis apa yang ada di layar itu. Beberapa bisa jadi tulisan, beberapa lagi karena bingung nerusinnya dan merasa jadi tulisan yang garing aku buang.
Salah satu kelemahan aku ada menulis naratif, bertutur, seperti layaknya sebuah cerita. Duh, "membaca saja aku sulit" (seperti iklan-iklan sekolah jaman TVRI dulu), apalagi diminta bertutur. Ngga jarang di tengah tulisan bingung, berenti, dan mengingat-ingat, ini tulisan mau dibawa ke mana ya? Kembali lagi, maafkanlah otakku yang terkadang loncat-loncat, dan lupa mau berkata apa.
Banyak orang yang bilang, terutama mereka teman-temanku yang sangat pandai menulis, kalo lu bisa bicara nyerocos, sama halnya dengan menulis. Aduh, tidak semudah itu tampaknya ya. Ketika aku punya topik yang menarik untuk dibicarakan, tidak semudah itu aku tuliskan dalam kata-kata yang sama menariknya. Alhasil, tulisan-tulisanku itu berbentuk rangkaian tulisan yang ngga jelas bentuknya. Narasi bukan, puisi juga nanggung.
Pertama kali aku termotivasi menulis untuk berbagi dengan yang lain, gara-gara seorang sahabat. Bisa berjam-jam aku ngobrol sama dia. Dari ujung barat sampe timur, dari utara sampe selatan, semua bisa diceritain. Dari hal-hal yang ngga penting sampai mimpi. Dari yang konyol sampe serius. ‘Dan, kenapa sih, hal-hal kaya gini ngga lu tulis aja? Kan bisa dibagi sama orang lain. Coba kalo cuma diomongin doang, yang denger cuma gw. Kalo lu tulis kan apa yang lu pikirin bisa dibagi juga sama orang lain. Lebih bermanfaat.’ Begitu katanya suatu kali.
Ah, omongan aku belum ada apa-apanya. Jadi tulisan untuk orang lain? Yang bener aja. Nanti malah diketawain. Begitu lah aku berpikir. Makanya selama ini nulis cuma buat buang sampah otak biar ngga menuh-menuhin otak. Biar otaknya ngga ngehang. Kalo ngga selesai nulisnya, bodo amat, ngga dibaca orang ini.
Akhirnya aku berpikir, mungkin ada baiknya aku tulis. Satu, biar aku bisa merapikan otak yang berantakan dengan belajar menulis runut, yang buat aku susah banget. Dua, masih berkaitan dengan alasan sebelumnya aku harus belajar untuk menyampaikan sesuatu sampe orang mengerti apa yang aku mau. Tiga, belajar buat komit nulis sampe aku selesai.
Dan memang, waktu aku kerja di sebuah radio swasta di Bandung, kerasa banget manfaat menulis untuk merapikan otakku yang ‘berantakan’. Kerjaannya kalo ngga siaran, ya nulis. Untuk mbak mentorku yang baik hati itu sabar banget ngajarin dan mendompleng aku untuk menulis lebih baik, rapi, sistematis. Sampe sekarang masih jauh dari yang semestinya, tapi yah lumayan lah dibandingkan dengan yang dulu.
Oke, langkah berikutnya adalah menyodorkan apa yang aku tulis ke orang lain. Wew.. malu ah. Tapi ya sudah, kasihin aja, toh kalo jelek aku ngga digigit ini, hihi. Paling seneng adalah kalau ada yang mengapresiasi apa yang aku tulis. Senang sekali ada orang yang mau meluangkan waktunya walaupun sedikit untuk baca tulisanku. Dan, pada satu saat, untuk mempublikasikan tulisan ini, dibuatlah sebuah blog. Dulu masih bikin multiply karena ngga cuma bisa posting tulisan aja, tapi juga foto, review buku atau film, dan resep.
Sekarang multiply aku tinggal karena semakin tidak bersahabat (baca : user-friendly), dan untuk jaringan sosial sudah ada facebook (setelah aku menghapus account friendster). Tampilan multiply tidak terupgrade sih.. Jadi aja males pake lagi. Sekarang, untuk dapet feedback dari orang-orang untuk tulisanku, kadang-kadang aku publish di notes facebook. Untuk yang lebih personal, aku tulis di blog ini. Sekarang masih belum mampu menulis panjang, masih seputar ‘puisi’ hasil curhat. ‘Ah, kok ngga berbobot banget sih kamu menulis?’, kataku sendiri. Setahun yang lalu masih suka nulis review tempat makan asik, karena kerjaan juga.
Akhirnya sekarang aku punya dua blog, satu Roemah Kajoemanis, satu lagi Sahabat Boemi. Alhamdulillah, 3 tulisanku masuk dalam finalis tulisan favorit Kumkum Blog Competition April 2010, dan tulisan "Nyuci Piring Yuuk" berhasil menjadi pemenangnya. Rencananya aku dan salah seorang sahabatku yang juga menjadi teman berduet piano waktu kecil akan menerbitkan sebuah buku puisi. Doakan, yaa!
Setidaknya yang penting dari menulis, belajar untuk jujur pada diri sendiri. Bisa refleksi dengan apa yang kita punya, dengan kata lain jadi lebih nyadar kalo diri ini masih kurang banget ilmunya. Kadang tidak mudah, tapi harus. Harus mulai disiplin, ada ngga ada mood, tiap hari harus menulis. Untung aku bekerja dengan ibu sutradara nan baik hati berbadan dua (bukan karena hamil lo..hihi) yang selalu memotivasi aku buat nulis. Ayo bu.. nulis!, gitu katanya. Aku juga dikasih ebook ‘How to Write a Damn Good Novel’. Wah, pekerjaan besar buat aku membuat sebuah novel.
But, what ever it takes, I’ll try. Kapan ya bisa terwujud? Baca aja lama, apalagi nulis..hehe. Tapi tetep, harus rajin nulis, harus rajin baca! Terkadang suka merasa bersalah kalo sampe lama ngga nulis. Serasa jadi orang bodoh yang ngga punya pemikiran bagus untuk ditulis.
Jadi, ayo menulis!!
*Ups! kok panjang ya?
Wah, aku ngga nyangka pernyataan di atas itu terucap dari seorang teman. Buat aku menulis itu hanya sekadar membersihkan 'sampah-sampah' di otak. Hal-hal yang bermunculan, lalu lalang kadang tidak kenal waktu, dengan topik yang juga loncat-loncat. Sesaat memikirkan A, tengah dipikirin, yang lain muncul. Begitu seterusnya. Buruknya, tiap hal yang dipikirkan ini sering kali ngga tuntas. Ya begitu lah, seperti busa sabun yang gelembungnya berhamburan, dan tiba-tiba pecah. Karena sering kali hilang dan cepat hilang itu, makanya harus ditulis.
Yang repot dan parahnya yang sering terjadi adalah, si balon-balon itu muncul justru saat mau tidur. Ketika titik kesadaran nyaris di titik nol, berjalan ke alam mimpi. Kalau ngga ditulis, idenya ilang. Kalo sengaja bangun dan ditulis tangan, keburu pegel. Kalo mau buka laptop dulu trus nulis, yang ada malah ngga tidur. Sekali dua kali, boleh lah bangun, buka dulu laptop, nyalain, trus diketik. Paling hanya tulisan-tulisan pendek yang kadang ngga tau ke mana juntrungannya. Tapi sekali nulis bisa belasan hal yang ditulis.
Satu saat kalau lagi ngga ada kerjaan, tulisan-tulisan pendek yang ngga jelas juntrungannya inilah yang diterusin. Kadang bingung juga, ngga nyangka dan ngga inget kalau aku pernah nulis apa yang ada di layar itu. Beberapa bisa jadi tulisan, beberapa lagi karena bingung nerusinnya dan merasa jadi tulisan yang garing aku buang.
Salah satu kelemahan aku ada menulis naratif, bertutur, seperti layaknya sebuah cerita. Duh, "membaca saja aku sulit" (seperti iklan-iklan sekolah jaman TVRI dulu), apalagi diminta bertutur. Ngga jarang di tengah tulisan bingung, berenti, dan mengingat-ingat, ini tulisan mau dibawa ke mana ya? Kembali lagi, maafkanlah otakku yang terkadang loncat-loncat, dan lupa mau berkata apa.
Banyak orang yang bilang, terutama mereka teman-temanku yang sangat pandai menulis, kalo lu bisa bicara nyerocos, sama halnya dengan menulis. Aduh, tidak semudah itu tampaknya ya. Ketika aku punya topik yang menarik untuk dibicarakan, tidak semudah itu aku tuliskan dalam kata-kata yang sama menariknya. Alhasil, tulisan-tulisanku itu berbentuk rangkaian tulisan yang ngga jelas bentuknya. Narasi bukan, puisi juga nanggung.
Pertama kali aku termotivasi menulis untuk berbagi dengan yang lain, gara-gara seorang sahabat. Bisa berjam-jam aku ngobrol sama dia. Dari ujung barat sampe timur, dari utara sampe selatan, semua bisa diceritain. Dari hal-hal yang ngga penting sampai mimpi. Dari yang konyol sampe serius. ‘Dan, kenapa sih, hal-hal kaya gini ngga lu tulis aja? Kan bisa dibagi sama orang lain. Coba kalo cuma diomongin doang, yang denger cuma gw. Kalo lu tulis kan apa yang lu pikirin bisa dibagi juga sama orang lain. Lebih bermanfaat.’ Begitu katanya suatu kali.
Ah, omongan aku belum ada apa-apanya. Jadi tulisan untuk orang lain? Yang bener aja. Nanti malah diketawain. Begitu lah aku berpikir. Makanya selama ini nulis cuma buat buang sampah otak biar ngga menuh-menuhin otak. Biar otaknya ngga ngehang. Kalo ngga selesai nulisnya, bodo amat, ngga dibaca orang ini.
Akhirnya aku berpikir, mungkin ada baiknya aku tulis. Satu, biar aku bisa merapikan otak yang berantakan dengan belajar menulis runut, yang buat aku susah banget. Dua, masih berkaitan dengan alasan sebelumnya aku harus belajar untuk menyampaikan sesuatu sampe orang mengerti apa yang aku mau. Tiga, belajar buat komit nulis sampe aku selesai.
Dan memang, waktu aku kerja di sebuah radio swasta di Bandung, kerasa banget manfaat menulis untuk merapikan otakku yang ‘berantakan’. Kerjaannya kalo ngga siaran, ya nulis. Untuk mbak mentorku yang baik hati itu sabar banget ngajarin dan mendompleng aku untuk menulis lebih baik, rapi, sistematis. Sampe sekarang masih jauh dari yang semestinya, tapi yah lumayan lah dibandingkan dengan yang dulu.
Oke, langkah berikutnya adalah menyodorkan apa yang aku tulis ke orang lain. Wew.. malu ah. Tapi ya sudah, kasihin aja, toh kalo jelek aku ngga digigit ini, hihi. Paling seneng adalah kalau ada yang mengapresiasi apa yang aku tulis. Senang sekali ada orang yang mau meluangkan waktunya walaupun sedikit untuk baca tulisanku. Dan, pada satu saat, untuk mempublikasikan tulisan ini, dibuatlah sebuah blog. Dulu masih bikin multiply karena ngga cuma bisa posting tulisan aja, tapi juga foto, review buku atau film, dan resep.
Sekarang multiply aku tinggal karena semakin tidak bersahabat (baca : user-friendly), dan untuk jaringan sosial sudah ada facebook (setelah aku menghapus account friendster). Tampilan multiply tidak terupgrade sih.. Jadi aja males pake lagi. Sekarang, untuk dapet feedback dari orang-orang untuk tulisanku, kadang-kadang aku publish di notes facebook. Untuk yang lebih personal, aku tulis di blog ini. Sekarang masih belum mampu menulis panjang, masih seputar ‘puisi’ hasil curhat. ‘Ah, kok ngga berbobot banget sih kamu menulis?’, kataku sendiri. Setahun yang lalu masih suka nulis review tempat makan asik, karena kerjaan juga.
Akhirnya sekarang aku punya dua blog, satu Roemah Kajoemanis, satu lagi Sahabat Boemi. Alhamdulillah, 3 tulisanku masuk dalam finalis tulisan favorit Kumkum Blog Competition April 2010, dan tulisan "Nyuci Piring Yuuk" berhasil menjadi pemenangnya. Rencananya aku dan salah seorang sahabatku yang juga menjadi teman berduet piano waktu kecil akan menerbitkan sebuah buku puisi. Doakan, yaa!
Setidaknya yang penting dari menulis, belajar untuk jujur pada diri sendiri. Bisa refleksi dengan apa yang kita punya, dengan kata lain jadi lebih nyadar kalo diri ini masih kurang banget ilmunya. Kadang tidak mudah, tapi harus. Harus mulai disiplin, ada ngga ada mood, tiap hari harus menulis. Untung aku bekerja dengan ibu sutradara nan baik hati berbadan dua (bukan karena hamil lo..hihi) yang selalu memotivasi aku buat nulis. Ayo bu.. nulis!, gitu katanya. Aku juga dikasih ebook ‘How to Write a Damn Good Novel’. Wah, pekerjaan besar buat aku membuat sebuah novel.
But, what ever it takes, I’ll try. Kapan ya bisa terwujud? Baca aja lama, apalagi nulis..hehe. Tapi tetep, harus rajin nulis, harus rajin baca! Terkadang suka merasa bersalah kalo sampe lama ngga nulis. Serasa jadi orang bodoh yang ngga punya pemikiran bagus untuk ditulis.
Jadi, ayo menulis!!
*Ups! kok panjang ya?


hahaha, ga bisa nulis taunya udah jadi koran minggu yg tebel.
BalasHapusmau yah belajar ilmu nulisnya sama mbak Dan :-)