kacamata untuk belajar.
Beberapa waktu belakangan ini aku tergila-gila menikmati duet dari dua orang pianis, Greg Anderson dan Elizabeth Roe. Mereka bisa mengemas lagu-lagu klasik yang buat sebagian orang mungkin membosankan, dengan permainan yang menggoda tidak hanya telinga tetapi juga mata. Jari-jarinya menari lincah tidak seperti duet lainnya, yang terpaku pada wilayah masing-masing. Mereka bisa menghibur penontonnya dengan permainan empat tangan yang berpindah-pindah, saling bersilang satu sama lain. Seakan-akan jari-jari mereka terlahir ajaib memainkan tuts-tuts piano dengan lincah.
Bukan hanya permainan tuts di piano saja yang menghibur. Permainan kata-kata dari buku-buku yang menumpuk minta dibaca juga harus dituntaskan. Buku-buku bagus yang tidak hanya mengalir ringan, tapi mereka memiliki kedalaman tertentu sehingga banyak menginspirasi mereka yang membacanya. Pilihan kata yang tepat, membius pembacanya hingga terbawa mimpi. Baru terbangun di penghujung cerita. Masih menggunakan 'kacamata' yang sama, lagi-lagi aku berpikir 'Ah, penulisnya pasti berbakat'. Lahir dengan kemampuan menulis yang baik. Apa yang mau dibagi, tinggal diketik.
Dulu, ketika aku menikmati karya mereka, sang pianis maupun musisi, yang terbayang adalah mereka memiliki kemampuan itu seperti mereka memiliki saudara kembar. Terbawa sejak lahir. Dan bayangan itu kadang merusak semangat untuk maju dengan pikiran ‘ya iya lah..mereka kan emang jago. Kayanya ngga perlu banyak latian juga udah jago’. Bahaya.. ini kacamata ‘khas’ jaman sekarang. Instan. Maunya langsung jadi. Maunya langsung jago. Maunya langsung bisa.
Waktu aku les piano pop dulu, aku dapet giliran paling belakang. Jadi sesudah les masih punya waktu lowong untuk ngobrol atau ngeliatin guruku main-main piano atau latian sendiri. Menyenangkan, karena aku jadi melihat dan merasakan proses dari orang yang kita anggap kemampuan jauh di atas kita. Mereka, orang-orang yang kita anggap memiliki darah ‘jago’ itu, mulai dari bawah, dari pelan, dilatih sedikit-sedikit, memperbaiki yang salah. Aku melihat bagian yang suka terlewati ketika kita menonton konser atau membaca buku bagus. Bagian yang bercerita bahwa mereka di sana dengan proses. Berlatih beribu-ribu jam, menulis beribu-ribu lembar sebelum mereka dikenal orang melalui karyanya.
Mungkin bukan hanya aku yang pernah berpikiran seperti itu. Bahwa kemampuan itu tidak jatuh dari langit. Tapi kadang budaya instan yang semakin beranak pinak sekarang membuat kita tidak sadar akan pentingnya proses. Satu dari sekian banyak budaya instan yang terlihat dan dirasakan, orang lebih mementingkan nilai yang tertera di sebuah kertas ijazah, daripada proses belajar itu sendiri. Buat aku itu hal yang paling miris. Sekolah yang seharusnya mengajarkan kita untuk menikmati proses, ternyata malah merusak proses itu sendiri. Sekolah yang harusnya mendidik, malah memberikan kacamata instan.
Kita harus ingat, atau mungkin diingatkan, untuk menggunakan ‘kacamata’ lain, yang bukan hanya mengingatkan kita bahwa hasil adalah segalanya, tapi kita menjadi seseorang bukan karena hasil tapi karena proses. Kacamata yang membuat kita lebih sabar dan mengumpulkan energi untuk berproses. Dengan kacamata itu, aku bisa baca buku dan nonton konser lebih asik lagi. Dan tentunya, membawa oleh-oleh semangat untuk berproses. Entah latihan piano lebih rajin, atau menulis lebih rajin. Jam terbang memang penting.
Hm… Kamu udah punya kacamatanya belom? Kalo belom, cari yuukkk :)

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..