manusia karet.
Saya ingat, satu malam beberapa tahun yang lalu, saya curhat setengah mengomel dengan teman "sekamar" saya. Intinya saya kesal dengan sistem yang "ngga jelas" di Semi Palar, tempat saya mengajar. Lalu disahuti dengan ringan, "Mbak, bedain sistem yang cair sama sistem yang ngga jelas. Kalau tempat macem itu sih memang sering keliatan ngga jelas, tapi sebenernya memang gitu dinamikanya, apalagi komunitas atau tempat yang organik kaya Semi Palar. Kita yang harus ngikutin." Hmmm.. lalu ditambahkan lagi. "Kitanya sih yang kudu peka."
Ya, aku yang kudu peka.
Dan pesan itulah yang sampai sekarang cukup menjadi pegangan ketika saya kembali berkarya di tempat yang sama setelah melanglang bertualang 2 tahun. Yang cair: ikuti. Yang ngga jelas: putuskan.
Saya, sebagai orang yang dulu terbiasa harus jelas ini itunya, mau tidak mau belajar merentang, melentur. Belajar fleksibel. Belajar keluar dari zona nyaman-aman yang ada dan membuat zona baru. Terus begitu. Dulu saya sangat mudah terganggu kalau ada hal yang tidak sesuai rencana atau harapan. Sekarang harus belajar lebih berterima, tidak mudah kesal, dan merespon cepat.
Melenturkan diri bak karet kualitas yahud, bisa merentang sini situ tanpa menjadi getas dan putus memang perlu waktu. Bagaimana bisa kita harus mendidik anak-anak abad 21 yang perlu sangat fleksibel dan adaptif, tanpa menjadikan diri kita seperti itu? Bekerja seperti mesin dengan SOP satu, dua, dan tiga sudah pasti ngga bisa. Fungsi fasilitator pembelajaran aktif dari satu kegiatan yang dinamis membuat kita harus siap merespon situasi dengan cepat tepat, cerdas cermat. Spontan, bukan impulsif. Sebagai guru kita perlu memberikan stimulan, dan kita bisa merencanakan stimulan-stimulan itu. Tapi kita seringkali tidak pernah tahu respon macam apa yang dimunculkan oleh murid-murid kita.
Untuk bisa menjadi seperti itu, sepertinya memang perlu kesadaran penuh: sadar diri, sadar lingkungan, sadar tujuan. Duh, tiga sadar dari Kang Aat ini memang jadi pegangan di mana-mana. Kita perlu peka membaca situasi dan tahu tujuan kita untuk menentukan metoda yang tepat untuk satu kegiatan. Kita harus sadar kapasitas olah kita supaya kegiatannya masih bisa kita kelola dengan baik.
Selain perlu memperkaya metoda, kita juga perlu memperkaya wawasan. Kalau dulu mengajar tematik di SD, karena olahannya sangat imajinatif, kadang kita bisa "ngarang cerita asal nyambung". Hahaha.. Pernah bekerja di beberapa tempat untuk mengerjakan proyek, dan sempat mengolah program untuk remaja memang kadang menjadi "kemewahan" tersendiri buat saya kalau perlu improvisasi dan me-recall cepat metoda di kelas. Tapi ya ngga selalu... Kalau tidak bisa, ya sudah, dijalani seoptimal mungkin (bari gemes), sampai rumah buru-buru googling metoda yang mungkin bisa jadi alternatif tepat. Sungkem mbah google. Sambil berselancar sana-sini, tidak jarang nemu bahan-bahan lain yang menarik, langsung simpan buat referensi!
Ya, menjadi guru sepertinya memang begitu terus dan tidak pernah ada habisnya. Ah, ralat. Ngga cuma jadi guru yang perlu fleksibel pastinya. Pekerjaan apapun pasti begitu. Dan siapapun yang berusaha terus belajar dan merentang, pastinya akan menjadi manusia karet kualitas yahud.
Eh, btw.. jadi fleksibel tidak sama dengan ngga konsisten, ya!
Semangat, aaah!
Semangat, aaah!

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..