akreditasi gembira
Tidak disangka, ada juga yang namanya "akreditasi gembira". Mumpung masih belum sebulan dan jejak akreditasi (baca: jerawat parah) masih ada, berarti belum basi berbagi.
Ya, awal bulan lalu, tepatnya tanggal 9 dan 10 September, sekolah kami SMP Semi Palar mendapat jatah giliran akreditasi.
Akhirnya!
Setelah kabar pertama yang mengejutkan yaitu kami dikabarkan bulan Juni bahwa akan akreditasi bulan Juli,
setelah diundur beberapa kali,
dan setelah jadwal pasti dikabari sekitar seminggu sebelumnya.
*Fiuh* Untuk kegiatan sebesar ini, masa dinas tidak memiliki perencanaan yang pasti? Selama persiapan, kami juga agak cemas, siapakah orang yang akan menjadi asesor akreditasi sekolah kami?
"Dan, doa minta jodoh ditunda dulu lah sampai akreditasi. Minta asesor yang baik aja dulu..."
Hahaha, "candaan" tadi memang benar adanya. "Nasib" sekolah kami akan berada di tangan asesor. Dengan konsep yang tidak seperti sekolah pada umumnya, tentunya sekolah kami memiliki cara dalam mendokumentasikan keseharian kegiatan kami. Kami juga tidak muluk-muluk ingin mendapatkan peringkat "terakreditasi A", cukup dengan harapan sekolah kami bisa menyelenggarakan ujian secara mandiri.
Riweuh, sudah pasti. Selain bentuk tanggung jawab, akreditasi adalah salah satu cara untuk "belajar memahami keberadaan (sekolah) kami dalam sistem pemerintah." Begitu ucapan Pak Ipong, salah satu perwakilan dari yayasan. Untuk itu kami coba mempersiapkan 167 poin dari 8 standar penyelenggaraan pendidikan yang dimintasebaik mungkin, semampu kami. Kami menyadari, poin akreditasi sebanyak itu adalah satu bentuk cara dan tanggung jawab pemerintah untuk memastikan bahwa sekolah menyelenggarakan pendidikan dengan baik. Meski saya pribadi menyayangkan terkadang "kunci jawaban" dari 167 poin yang diminta tersebut diterjemahkan terlalu sempit dan sangat membatasi.
Ya sudah, bismillah.. kita jalani saja.
Namun, semesta memang baik. Kami tidak hanya diberi asesor yang mau mendengarkan namun juga selalu terbuka dan mencoba untuk memahami prinsip-prinsip dasar dari hal-hal yang kami kerjakan. Dengan sabar mereka memeriksa dokumen demi dokumen dan berusaha menggali apa yang kami lakukan.
Dunia dan setiap kepingnya unik. Guru harus bisa memfasilitasi keunikan anak untuk berkembang, sekolah memfasilitasi keunikan guru untuk menjadi pendidik yang baik, pun pemerintah, harus bisa memfasilitasi keunikan lembaga-lembaga pendidikan yang ingin menghidupkan jiwa-jiwa pembelajar. Harapannya sih begitu.
Alhamdulillah, semua berjalan tidak saja lancar namun juga gembira. Mungkin kalaupun tidak semua dari kami gembira, minimal saya sendiri gembira. Gembira karena akreditasi lalu menjadi momen yang sangat produktif dan kaya pembelajaran. Bahkan kami sempat mengobrol cukup banyak dengan para asesor, dan kami mendapat beberapa sudut pandang dari sisi asesor yang bisa memperkaya sekolah. Gembira karena biasanya pengawas mengharuskan sekolah pake format tertentu, asesor kemarin malah menanyakan inovasi apa dalam perencanaan yang kami buat dengan konsep kami. Gembira juga karena mereka juga mulai terbuka dengan sistem sekolah yang kebanyakan terdokumentasi secara online. Dan sekarang, gembira karena akreditasi akhirnya berlalu juga, hehe..
Eits, siapa bilang berlalu? Tunggu empat tahun lagi..
Berharap ke depannya, tidak hanya asesor kami, namun semua asesor adalah orang yang kreatif dan memiliki pemahaman mendalam tentang penerjemahan prinsip-prinsip 8 standar penyelenggaraan pendidikan. Kami juga berharap, para asesor adalah "birokrat yang berpikir jauh ke depan, dan mengawal mimpi-mimpi besar masyarakatnya." seperti yang disampaikan Kang Aat Soeratin saat mendampingi kami melakukan akreditasi ini.
Tahun depan, giliran SD kami yang akan melakukan akreditasi yang kedua. Semoga semua berjalan baik dan lancar. Dan semoga pemerintah semakin terbuka dalam memberi ruang sekolah-sekolah di luar jalur konvensional untuk berkembang.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..