andaliman.
Bumbu khas Sumatera Utara. Katanya sih, rasanya pedas-pedas menggoda, sayang saya belum pernah mencobanya, baru sempat mencium wanginya yang harum. Biar begitu, nama Andaliman itu terasa istimewa untuk saya di tahun ini.
Lalu ada apa dengan andaliman?
Ya, itulah nama yang dipilih oleh teman-teman kelas 8 yang saya dampingi setahun ini. Di sekolah tempat saya berkarya, Rumah Belajar Semi Palar (Smipa), nama kelasnya dipilih tematik berganti setiap tahun. Tahun pendidikan 14/15 kemarin kami memilih nama rempah-rempah khas Indonesia sebagai nama kelas.
foto dari sini
Ada yang bilang andaliman itu merica Batak, pedas menggigit di lidah. Kata orang yang pernah mencoba, andaliman ini sedikit menyengat dan membuat "mati rasa" lidah sehinga memberikan sensasi yang unik di mulut.
Ah, tepat! Seperti itulah rasanya setahun kemarin.
Di awal tahun, teman-teman Andaliman memang "menyengat" saya dengan "lembam"-nya. Bikin saya gemas! Hehehe. Inginnya santai, kadang cenderung tidak bergairah. Satu dua celetukan kadang "pedas". Haha, ya sudah. Katanya sih wajar kalau di umurannya mereka seperti itu. Kita yang harus mengajak mereka untuk "bangun" dan produktif.
Mari kita kemoon......
Kelas Andaliman ini kelas yang "maskulin" banget. Dari 17 murid, 12 di antaranya laki-laki. Sebagian besar dari mereka bukan kali pertama bertemu dengan saya. Saya pernah mendampingi kelas yang sama sewaktu mereka kelas 4 SD dulu. Justru karena saya pernah mendampingi mereka sebelumnya, saya tahu bahwa potensi mereka besar!
Saya suka bilang bahwa ibarat kopi dan teh, mereka itu kopi dan teh terbaik. Tapi sepertinya mereka lebih senang untuk direndam dalam air dingin atau sedikit hangat daripada terseduh air panas, jadi belumlah keluar "wangi"nya.
Tiga bulan pertama sepertinya bukan saat-saat yang menyenangkan, baik untuk mereka maupun untuk saya. Setelah dua tahun berkelana, saya perlu menyesuaikan diri bagaimana menjadi pendamping untuk anak-anak seusia mereka. Dan mereka? Tampaknya banyak "terusik" zona nyamannya dengan tipe saya yang "galak" dan seringnya "narik".
Ngga ngulur, Dan?Ya, ngulurnya seperlunya saja, ya. Tentunya seperlunya dari kacamata saya.
Ups! Sorry ya, temans:)Selama saya yakin hal-hal yang dijalankan baik untuk mereka, saya jalan saja. Terlepas itu salah atau tidak, kami sama-sama refleksi dan belajar dari kesalahan masing-masing. Ya, setiap awal minggu kami mengadakan refleksi pembelajaran. Kenapa awal minggu? Supaya semua hal yang terjadi seminggu kemarin, sudah terendapkan sehingga yang keluar mudah-mudahan tidak emosional. Sekali dua kali, kalau memang ada kejadian yang "luar biasa", kami mengadakan refleksi juga. Dalam situasi itu sengaja saya minta mereka langsung menuliskan refleksinya, karena terkadang saya juga ingin menangkap emosi yang keluar dari mereka. Mau marah atau kesal sama saya, mangga. Ngga dilarang kok.
Ada yang merasa tidak nyaman diajar sama saya? Tentunya. Saya melihat mereka memiliki zona nyaman yang sangat kecil. Jelaslah tidak suka sama saya yang hobi ngusik-ngusik mereka dari ruang nyamannya. Diusik sedikit supaya beranjak keluar, mereka berontak. Ngga apa-apa, saya siap.
Oya, mendampingi kelas 8 di Smipa itu sama juga dengan menyiapkan mereka melakukan sebuah Perjalanan Besar mandiri ke luar kota. Dengan zona nyaman mereka sebesar kena-panas-upacara-pagi-hari-sebentar-bikin-ngeluh, tentunya tahun ini menjadi tahun kerja keras mereka. Apalagi tahun ini tujuannya Pantura yang panasnya aduhai.
Sebentar.. Perjalanan Besar?Ya, di Smipa, kelas 8 adalah tahun mereka menjalani Perjalanan Besar, semacam backpack "mandiri" ke kota-kota di Jawa. Kenapa mandirinya diberi tanda kutip? Karena mereka melakukan perjalanan dan mengisi hari-hari dengan jadwal yang mereka buat sendiri. Kami, para pendamping, hanya memantau dari jauh. Sangat berbeda dengan karya wisata yang saya lakukan saat seumur mereka, namanya perjalanan keluar kota itu adalah pergi ke luar kota dengan serangkaian acara dari sekolah yang harus diikuti. Biaya perjalanan minta dari orang tua, dan sekolah menyewakan bis khusus untuk perjalanan tersebut.
Tahun ini kelas Andaliman mendapat bagian bertualang ke Lasem dan Semarang, menyambung tema pembelajaran tentang akulturasi. Pada Perjalanan Besar ini, setiap anak menabung sendiri uang untuk perjalanan. Ada yang menyisihkan uang jajan, ada yang berjualan barang atau makanan di business day. Untuk mencapai kota tujuan, kami menggunakan transportasi umum yang ada. Dan karena anggarannya terbatas, kami berusaha sehemat mungkin dengan naik bus malam, bus antar kota ekonomi, atau kereta api ekonomi. Memang mungkin tidak senyaman biasanya mereka bepergian ke luar kota, namun pastinya banyak pengalaman dan tentunya pelajaran baru yang mereka dapatkan.
Nah, dengan adanya Perjalanan Besar di semester kedua, tentunya kakak pendamping alias guru perlu menyiapkan teman-teman pembelajar supaya bisa melakukan Perjalanan Besar dengan asyik dan menyenangkan walaupun kondisinya mungkin tidak seenak yang dibayangkan.
Yak, kembali lagi ke ruang nyaman.
Saya ingat satu hal yang beberapa kali menjadi bahasan dengan beberapa teman,
"Dan, kalau mau jadi guru yang disenangi semua anak sih gampang. Kasih aja apa yang mereka mau. Minta main? Kasih. Minta santai? Kasih. Tapi esensi jadi guru kan tidak sekadar bikin anak senang sama kita. Apalagi kalau sudah mendampingi anak yang besar."Juga ingat yang ini..
"Anak-anak, apalagi kalau sudah mulai besar, perlu mulai belajar beranjak dari 'belajar menyenangkan' ke 'senang belajar'. Karena semakin besar, malah hal-hal yang tidak menyenangkan yang bisa bikin kita banyak belajar. Jadi guru seharusnya membangun kemampuan, walaupun mungkin bikin itu tidak nyaman."Saya sadar betul, mereka kerap sebal sama saya karena saya terkadang memberikan hal-hal yang "menyulitkan" mereka. Saya juga perlu memberanikan diri untuk menjadi Kakak yang mungkin tidak disenangi, selama saya yakin hal yang saya jalankan memang baik untuk mereka, membangun kemampuan mereka, membangun ketangguhan mereka. Sering kali tidak gampang, apalagi kalau harus bersitegang dengan anak-anak. Dan kalau sudah "lelah", kadang mau gampangnya saja : kasih aja yang mereka mau.
Tiga bulan berikutnya terasa lebih ringan dan menyenangkan. Anak-anak bisa lebih antusias dan semangat berkegiatan. Apalagi ketika itu kami menjalankan sebuah proyek menantang : merancang papan permainan (board game) untuk belajar sejarah. Kalau mengintip KurNas, anak-anak belajar tentang perjuangan menuju kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Kali itu kami bekerja sama dengan Kummara, pengembang permainan asal Bandung. Mereka sebenarnya belum pernah mendampingi anak-anak membuat papan permainan, tapi tak apa, mari kita coba bersama.
Untuk saya, setahun ini Semesta begitu murah hati pada kami. Banyak kesempatan yang dihadiahkan supaya kami belajar. Salah satunya saat Prof. Scot Osterweil (Creative Director of the Education Arcade and a research director in the MIT Comparative Media Studies/Writing Program) datang ke Bandung. Kami mendapat kesempatan untuk meluncurkan purwarupa permainannya di hadapan beliau dan juga publik Bandung. Konsekuensinya? Permainan harus selesai dalam waktu 4 minggu!
![]() |
| Liputan papan permainan karya Andaliman di Kompas |
Kalau dipikir-pikir, 4 minggu bukan waktu yang cukup untuk menyelesaikan sebuah konsep permainan, apalagi kami juga punya kegiatan lain selain proyek ini. Alhamdulillah, setelah saya lemparkan wacana kesempatan ini dan mereka tahu konsekuensinya, mereka menerima tantangan itu.
Ya, suasana kelas sudah jauh lebih antusias dan kondusif sekarang!
Di semester dua, semua kegiatan fokus mempersiapkan Perjalanan Besar karena waktu sudah semakin dekat. Salah satu rangkaian persiapannya adalah melakukan 4 Perjalanan Kecil di Bandung dan sekitarnya. Saya juga mendapatkan partner guru baru, menggantikan partner saya yang akan mendampingi kelas 9. Alhamdulillah, punya partner baru yang pengalaman dengan urusan jalan-jalan bersama anak remaja.
Mereka yang sebagian besar bukan pengguna angkot, mulai belajar menggunakan angkot sendiri. "Mencongak" angkot, permainan perkenalan yang nama dirinya diganti nama trayek angkot, tebak-tebakan angkot, semua dijalankan supaya mereka percaya diri naik angkot, tidak takut tersasar. Mau tidak mau mereka harus berani untuk naik angkot mandiri, bersama teman-teman kelompoknya, karena nanti di Perjalanan Besar mereka akan menjelajah kota lain yang sama sekali baru secara mandiri!
Di berbagai kegiatan, kami menyebar petunjuk-petunjuk supaya mereka bisa menebak kota mana yang akan menjadi tujuan. Setelah itu mereka pun menyiapkan daftar hal yang ingin mereka ketahui di kota-kota tersebut.
Setelah mereka pulang dari Perjalanan Besar, mereka punya waktu satu setengah bulan membuat karya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka selama pergi. Lagi-lagi situasi tidak memberikan keleluasaan waktu untuk mereka berkarya.
Proyek "ambisius". Ada yang bilang begitu. Tapi saya yakin, walaupun ambisius, mereka bisa.
Untungnya, teman-teman Andaliman memilih membuat dua buah buku yang (akhirnya) mereka beri judul "Mencari Serpihan Akulturasi" untuk menceritakan berbagai fakta yang mereka dapatkan selama perjalanan, dan "Sejuta Tapak Andaliman" yang menceritakan tentang pengalaman perjalanan mereka. Kenapa untungnya? Karena di awal ada yang mengusulkan untuk berbagi dalam bentuk film dokumenter. *gubrag*
Takjub melihat ketahanan fokus mereka yang begitu merentang. Ya, sangat merentang karena di awal kelas 8 biasanya tengah hari mereka sudah "mabok". Hehehe. Sebulan setengah kelas berubah menjadi "kantor redaksi". Ya, saya ingin mereka melakukan sendiri semuanya. Kami, kakak pendamping hanya sedikit membantu pada penyuntingan, menyumbang cerita yang memang menjadi bagian kami, dan memasukkan foto-foto.
Dan benar, mereka bisa, hasilnya juga bukan karya "ala kadarnya".
Secuplik cerita Perjalanan Besar ini bisa dibaca di sini, dan kalau mau mendapatkan buku-buku hasil karya mereka bisa pesan juga!
Ya, setahun yang mengagumkan melihat metamorfosis anak-anak remaja ini. Dari yang lembam dalam zona nyamannya, menjadi anak-anak tangguh, calon penjelajah-penjelajah dunia! Yang dulu senang mengkritik di media sosial, sekarang bisa mengolah kritikannya dan pemikirannya menjadi tulisan yang begitu dalam. Yang dulu diam, ragu untuk memunculkan dirinya, sekarang berani "bersuara" dan berinisiatif mengambil tanggung jawab. Beberapa anak membuat saya benar-benar takjub karena "tiba-tiba" berubah dari yang malas, lembam, banyak galau, sekarang penuh tanggung jawab dan semangat.
And I very proud of them! Rasa ini yang tidak terbayarkan kalau jadi guru. Rezeki mereka juga di akhir semester satu dan dua bisa berbagi melalui liputan di media massa. *Sstt.. Bisa masuk koran itu salah satu bentuk penghargaan, tapi jangan dijadikan tujuan, ya! :)
![]() |
| Liputan Belia-PR tentang penulisan buku perjalanan |
Yang jelas, setahun ini, 17 orang inilah yang menjadi guru hebat saya. Catatan-catatan refleksi mereka tidak pernah pelit memberikan masukan untuk saya.
"Jangan terlalu serius, Kak!"
"Kalau kita bercanda jangan dianggap serius, dong."
Ya, akan saya ingat itu ;) Kadang sulit untuk saya sedikit "santai" kalau lagi situasi serius. Hehehe.
"Ayo dong, kalau istirahat ngobrol sama kita."
Aku harus lebih baik lagi dalam menyiapkan dan merencanakan segala sesuatu, supaya waktu istirahat bisa bersantai mengobrol bersama mereka.
"Kalau ngasih nasihat, to the point aja, kak."
Hahaha. Ya, kadang kelepasan mrepet bin bawel kalau lagi ngasih tahu anak-anak.
Terima kasih pengingatnya ya, teman-teman! Mari kita terus belajar untuk diri yang lebih baik.
Dan kalau saya suka bilang mereka perlu diseduh untuk tahu kualitas terbaiknya, saya berharap untuk berikutnya mereka bisa menyeduh sendiri diri mereka untuk bisa mengeluarkan semua hal baik yang mereka punya!
Setahun penuh, saya mengunyah Andaliman.
Dengan segenap pikiran dan hati.
Menyengat? Ya!
Tapi memang sensasi rasanya luar biasa, tak tergantikan
Terima kasih untuk setahun penuh cerita, Andaliman..
Dengan segenap pikiran dan hati.
Menyengat? Ya!
Tapi memang sensasi rasanya luar biasa, tak tergantikan
Terima kasih untuk setahun penuh cerita, Andaliman..
Doakan saya jadi Kakak pendamping yang lebih baik ya, teman!
p.s. : sebenarnya kalau mau diceritakan semua, serialnya akan panjaaaang. Jadi segini aja dulu yaa :)






Terharu..
BalasHapusini perasaan sy dr awal mulai baca beberapa kalimat pertama..dan akhirnya menitikkan airmata karena begitu besar hati yang diberikan setiap guru buat anak2 kami kelompok andaliman.. Anak saya termasuk yang suka protes dengan "kegalakan" kak Danti. Makasih ya kakak, karena sy justru suka dgn berbagai variasi cara mengajar di smipa agar anak lbh siap dengan dinamika perilaku orang2 di masyarakat yg lebih luas nantinya.
Bersyukur..untuk segala hal yang telah diberikan untuk anak2 kami. Semoga kakak2 tetap semangat dalam mengajar, pantang menyerah kalau menghadapi anak2 seperti contohnya kelompok andaliman ini hahaha. Semoga Tuhan memberkati usaha kak Danti, kak Fitri dan kak Braja. Aamiiin
Bu Saraaaahhh.. amiiin. terima kasih doanya ya, bu.
Hapus*pelukciumhangat*
Danti
Menjadi guru adalah salah satu angan saya saat kecil dulu, rasanya keren saja berbicara di depan kelas dan dianggap paling tau, rentang SD, SMP sampai S2 begitu banyak figur guru yang membekas dan selalu ada dalam kenangan. Itu semua yang kemudian mendorong saya -4 tahun lalu- menjadi guru dibarengi menjalankan profesi utama. Kemudian keseluruhannya berjalan dinamis, mengajar, memimpin diskusi, membimbing, diselingi membuat materi kuliah., menyusun soal, menguji, dan ternyata itu semua memberi banyak arti, betapa saya makin belajar banyak dari proses saya mengajar. Membaca postingan kak Danti memberi keyakinan yang makin besar bahwa pilihan saya di usia kepala empat ini adalah benar adanya, dan apa yang saya dapat saat ini belumlah ada apa-apanya dibanding apa apa yang sudah di adakan oleh kak danti di andaliman. Terima kasih untuk kesungguhan menjalani keseluruhan prosesnya, bukan karena Trystan terlibat di dalamnya, bukan, tapi karena ada semangat dan usaha yang amat menginspirasi. Sungguh cerita Danti-andaliman memperkaya rasa batin, menebalkan asa, menjejakan keyakinan akan masa depan Trystan, sungguh
BalasHapusSaya hanya meyakini, apapun yang dijalani dengan hati, pasti akan kembali memenuhi rasa batin :) Saya sendiri merasa punya kemewahan dengan berbagai petualangan bekerja di berbagai dunia sebelum mengajar, karena untuk saya semua pengalaman itu memberi warna ketika saya masuk kelas. Terutama di Semi Palar karena warna pembelajarannya sangat dekat dengan dunia nyata.
HapusMemang, mencemplungkan diri di dunia pendidikan dan mengajar saya niatkan menjadi pelabuhan terakhir, dan sampai sekarang tidak terpikir untuk keluar dari dunia ini. Kebahagiaan berbaginya memang ada, tapi justru karena saya belajar jauh lebih banyak dari teman-teman kecil saya melebihi petualangan pekerjaan saya sebelum mengajar. Juga karena melalui mengajar pula saya belajar menjadi "saya".
Terima kasih untuk apresiasinya, Pak Endro.
Salam,
peluk Danti... so proud to know you <3 <3 <3
BalasHapusWaaa.. makasih, Mbak Leaaa.. eh, eh, aku mau main ke Salatigaaa. tapi belum tahu kapan
Hapuspengen anak-anakku sekolah di sanaaaaa berguru mbak dan :D
BalasHapusYuuukkk :)
HapusBangga sekali membacanya Danti, Proud!
BalasHapusthank you, Dwi :)
Hapus