bertanya.
"Saya suka sebal, kenapa sih kalau saya nanya Kak Danti, pasti dijawab pertanyaan?"Lontaran salah seorang murid saya itu disahuti anggukan 15 anak lain yang duduk melingkar bersama dalam sebuah refleksi penutupan akhir tahun. Pada sesi itu mereka boleh mengungkapkan apapun yang menurut mereka mengganjal, supaya tidak menjadi "obrolan belakang" yang tidak solutif selepas tahun pendidikan berakhir.
Saya memang sering kali merespon pertanyaan mereka dengan balik bertanya, "Menurutmu bagaimana?" Dan itu membuat mereka sebal.
Ih, ini si Kakak gimana sih? Kita kan pengen tahu. Kita nanya malah ditanya balik."Kalau Kakak nanya balik, berarti Kakak yakin kamu bisa menjawabnya sendiri, atau minimal kamu bisa mencarinya sendiri."
Tapi kan jadi bingung, Kak..Selama saya mengajar, saya sangat sangat sangat mengingat apa yang disampaikan Pak Iwan Pranoto melalui tulisan "Bertanya, Kecakapan Mendidik Abad 21" Biarkan anak yang menemukan jawabannya sendiri dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan kita sebagai gurunya.
Kadang-kadang saya berpikir, kok jadi guru enak, ya. Ngga perlu tahu jawabannya kalau anak-anak ingin tahu. Tinggal nanya balik.
Benarkah?
Setahun kemarin, saya berusaha untuk betul-betul tidak begitu saja menjawab pertanyaan anak. Terkadang tidak mudah, karena bila satu anak melontarkan pertanyaan, prosedurnya menjadi panjang. Memang kalau mau gampang, tinggal jawab saja. Tapi saya ingin mereka bisa menemukan jawabannya sendiri, dan punya daya juang untuk memenuhi rasa ingin tahunya, sehingga bila mereka menemukan jawabannya, mereka memiliki rasa puas dan bangga pada prosesnya. Mereka pun bisa belajar bahwa segala sesuatu tidak bisa instan. Perlu ada upaya untuk mendapatkan sesuatu.
Ternyata tidak mudah.
Untuk saya yang merasa selama bersekolah dulu terus disuap, proses ini tidak mudah, karena saya sendiri merasa sangat terbiasa dengan respon jawaban ketika saya bertanya.
Satu lontaran pertanyaan pendek, perjalanan bisa panjang. Satu, setelah mendengar satu pertanyaan, saya amati dulu siapa yang bertanya. Setiap anak punya kemampuan yang berbeda-beda. Untuk itu saya perlu meresponnya berbeda pula.
Kedua, di saat yang sama saya perlu merespon dengan pertanyaan. Bisa jadi saya hanya perlu membuat satu atau dua pertanyaan hingga anak itu bisa menjawab pertanyaan sendiri. Namun dengan pertanyaan yang sama dan dilontarkan oleh anak yang berbeda, bukan tidak mungkin saya harus menyiapkan hingga lima pertanyaan untuk hingga anak tersebut mendapatkan jawabannya.
Tiga, terkadang untuk memancing anak itu mendapat jawabannya, saya perlu melontarkan fakta-fakta lain. Biasanya fakta yang mereka sudah tahu yang bisa menjadi petunjuk lain.
Itulah mengapa saya merasa setelah memfasilitasi sebuah diskusi kelas energi saya terkuras. Yang saya dapat justru malah jauh lebih dari sekadar anak bisa mendapatkan sendiri jawabannya. Kemampuan seorang guru untuk bertanya itu ternyata powerful tidak hanya untuk murid saja, tapi juga untuk guru. Dengan cara itu saya kembali belajar. "Mementahkan" kembali pengetahuan saya untuk saya pelajari lagi. Dan proses itu terus berlangsung, bukan hanya saat mempersiapkan sebuah pembelajaran, tapi dalam proses belajar mengajar itu sendiri.
Relearn.
Membuat pertanyaan saya coba biasakan pula dalam membuka satu materi.
Mengapa saya coba?
Ternyata saling melontarkan pertanyaan untuk mengonstruksi pemahaman itu belum menjadi budaya. Bertanya terkadang masih dipasangkan dengan jawaban. Murid seringkali masih terganggu bila pertanyaannya kembali direspon dengan pertanyaan.
Biasanya, saat membuka satu materi saya mengumpulkan poin-poin yang berkaitan. Setelah itu saya meminta murid membuat daftar pertanyaan apa saja yang ingin mereka ketahui dari hal-hal tersebut. Biasanya sambil jalan satu persatu terbahas dan terpilah mana yang berkaitan dengan materi yang tengah dibahas, mana yang tidak. Muncul pula pertanyaan-pertanyaan baru yang bisa menjadi amunisi mereka untuk tahu lebih jauh. Dari sini saya juga jadi tahu hal-hal yang sudah mereka ketahui sebelum membahas lebih lanjut satu materi.
Dalam tulisan yang lain, Pak Iwan mengungkapkan :
"Pertama, pertanyaan baik akan mengganggu kesetimbangan pemahaman. Pertanyaan baik akan menyadarkan bahwa masih ada miskonsepsi atau kekeliruan konsep yang kita percayai. Kesetimbangan kepercayaan kita pada pengetahuan yang kita tadinya sudah yakini akan terganggu oleh pertanyaan yang dirumuskan dengan baik. Pertanyaan baik sekaligus menegur sikap “merasa sok tahu” kita. Pertanyaan baik harus mampu menegur ketakaburan dan rutinitas manusia."Pertanyaan murid sering kali tidak terduga dan malah menggenapi pemahaman saya. Dari saling bertanya dan menjawab tersebut, pernah justru saya yang baru tersadar bahwa apa yang saya pahami kurang tepat. Malah kesetimbangan pemahaman saya yang terganggu. Selepas kelas saya kembali mencari tahu, mengonfirmasi kembali pemahaman saya. Lalu untuk sebuah materi yang sama, prosesnya akan terasa lebih mudah.
Budaya bertanya ini memang masih menjadi tantangan di dunia pendidikan. Setidaknya di kelas dan sekolah saya. Dan menurut saya, budaya bertanya ini membuat proses belajar menjadi sangat indah.
Setidaknya untuk saya sendiri.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..