laboratorium berjalan.

Gegara membaca postingan sepupu saya ini, saya jadi ingat ada satu corat-coret saya yang terbengkalai..
Saya suka naik tranportasi umum. Suka sekali. Baik angkot, maupun bus. Sayangnya sekarang sudah jarang naik bus kota, jadi saya sangat menikmati saat beberapa waktu lalu saya naik bus kota cukup lama.
Saking sukanya, angkot adalah salah satu solusi untuk mengusir jenuh. Kala perlu penyegaran, saya kerap naik angkot dan membiarkan diri saya terbawa dari terminal ke terminal. Mungkin karena terkesan pengalaman waktu kecil dulu. Sesekali kala senggang sepulang sekolah, ibu kerap mengajak saya naik bus sampai terminal Kopo atau Buah Batu, lalu kembali lagi.
Seru sekali memperhatikan kelakuan para penumpang dan berimajinasi dengan pengamatan itu. Angkot yang paling sering saya gunakan semenjak saya berseragam merah putih hingga saat ini adalah jurusan Kalapa-Dago. Menurut teman-teman saya, angkot jurusan ini adalah jurusan paling 'wangi'. Ada juga yang bilang angkot jurusan ini adalah angkot yang persentase perempuan cantik dan lelaki gantengnya paling banyak. Alasannya sama karena angkutan ini banyak digunakan mahasiswa dan mahasiswi atau pelajar.
Menggunakan angkot membuat banyak pemandangan yang bisa saya amati, baik di dalam angkot maupun di luar angkot. Tidak ada yang mengalahkan ragam cerita yang dikisahkan kehidupan angkot. Suatu hal yang mengasyikkan mengamati gestur tubuh, obrolan penumpang yang mau tidak mau terdengar, penampilan penumpang, dan masih banyak detail lain. Semuanya memiliki cerita. Terlebih jika ditambahkan dengan imajinasi kita. Hahaha.
Satu catatan saya : Bandung itu sempit, kawan. Apalagi kalau bergosip di angkot! Beberapa kali saya mendengar 'tetangga' di angkot menggunjingkan orang yang saya kenal ;p
Banyak pembelajaran setiap kali saya merunut kejadian-kejadian yang saya amati di angkot. Misalnya aja, atas segala ketidakberesan yang ditimbulkan oleh angkot, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan supir angkot. Banyak hal melatarbelakangi kelakuan supir angkot yang seperti itu. Sistem yang tidak mendukung, tekanan hidup, ketidakpedulian. Masih banyak lagi. Akan panjang ceritanya bila kita selalu merangkai setiap hal dengan pertanyaan mengapa, mengapa, dan mengapa.
Duduk di kursi angkot juga membuat saya banyak berpikir, mengapa masyarakat kita miskin sekali rasa empati, yang kemudian menyebabkan kita menjadi tidak menghargai (kepentingan) orang lain. Pengalaman-pengalaman mengamati dari angkot inilah yang membuat saya memutuskan untuk terjun di dunia pendidikan. Kenapa ya, pendidikan kita bukannya mengasah, malah terkadang melunturkan empati ini?
Pernah satu kali saya berbagi cerita tentang angkot ini kepada murid-murid saya. Angkot menjadi suatu topik seru di kelas, di mana anak-anak juga berbagi pengalamannya tentang angkot. Ada yang ingin angkot dihilangkan saja karena menyebalkan. Ada yang bercerita tentang serunya naik angkot kala orang tuanya tidak bisa bepergian dengan mobil pribadi. Mereka juga jadi berpikir, pada umur berapakah mereka mampu bepergian dengan angkot sendiri tanpa ditemani orang tua. Lalu mereka jadi bertanya-tanya, bagaimana jika tidak ada angkot di kota ini. Bagaimana jika ada angkot, tapi tidak ada yang mau menggunakannya. Mengapa sih orang-orang malas naik angkot. Menyenangkan sekali bisa mengamati serunya diskusi ini.
Ya, banyak pembelajaran hidup di angkot. Saya pikir, bukan saya saja yang merasakan transportasi umum itu seperti "laboratorium kehidupan". Sebuah laboratorium berjalan nan mungil. Dengan naik transportasi umum, kita bisa belajar hidup bermasyarakat. Jika kita mengibaratkan kota adalah tubuh, angkot adalah salah satu sel darah yang penting. Jadi sebagai bagian dari masyarakat, menurut saya kita semua perlu juga untuk peduli dan memikirkan nasib transportasi umum ini.
Kalau kamu mau mulai dari mana?

hahaha, ga pernah ada yg gosipin gue tapi kan dan?
BalasHapushahaha.. sejauh ini sih aman, ran :p
BalasHapusangkot emg kadang2 nyebelin, klo ngetem sembarangan. tapii kalo dipikir2 kesalahan paling besar adl pemda. krn bgitu gampang kasi ijin ke angkot2, yg akhirnya tumpah ruah ke jalan, saingan jd makin banyak, mau ga mau mreka doyan ngetem demi mendapat penumpang.
BalasHapusmudah2an pengganti mr.boops alias mr.dada rosada bisa mengatur masalah angkot2 ini, hihihi ^^
hihihihi.. amiiin :D
HapusIeu pisan, Mbak Dan =D Setujuhhhh ...
BalasHapus*toss *curhatsesamapenggunasetiaangkot
HapusKemarin ndenger di soundcloud, ada orang yg merekam suara pengamen yang tengah beraksi
BalasHapusTuh kasih tugas ke murid buat merekam dan memperagakan kembali adegannya hehe
Nanti deh, kalau ngajar lagi.. :) bikin projek berbasis angkot, hehehe.. dan pasar juga tentunya!
HapusDi Bintaro (Tangerang, tapi nempel Jakarta Selatan) angkotnya angker. Tiap kali palang kereta nutup, pasti angkot nyerobot antrian dan posisi jadi 2-2. Lalu waktu palang diangkat, selama beberapa saat tidak ada yang bisa gerak. :).
BalasHapus