menjadi guru, menjadi filsuf.


 "Satu hal yang aku tahu pasti adalah bahwa aku tidak tahu."
-Socrates

Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah buku "Cinta yang Berpikir, Sebuah Manual Pendidikan Charlotte Mason" karangan Ellen Kristi dari seorang sahabat saya yang juga pernah menjadi rekan pengajar di Semi Palar, sebuah rumah belajar tempat saya mengajar dua tahun kemarin. Petikan di atas saya dapatkan pada bagian akhir dari bab Epilog buku ini. Pada bagian tersebut dituliskan, jika petikan tersebut sudah menjadi dasar dari keseharian kita sebagai guru, kita akan siap memenuhi diri kita dengan ilmu dan kebijaksanaan bersama para murid. Orang yang selalu menjadi pembelajar.

Untuk saya petikan itu menjadi awal sebuah kalimat yang lebih panjang. Misalnya, "Satu hal yang aku tahu pasti adalah bahwa aku belum (tidak) tahu, jadi mari kita cari tahu bersama-sama." Petikan tersebut semacam pengingat dan yang selalu mengikatkan guru untuk terus membumi. Bahwa guru bukanlah dewa yang tahu segalanya yang kemudian menyalinkan 'isi otak'nya kepada murid-muridnya. Guru bukanlah seseorang yang lebih tahu dari anak-anak yang diajarnya. Dan ya, memang benar saya diposisikan untuk lahir terlebih dahulu sehingga saya dapat mengumpulkan referensi cara berpikir atau pengetahuan lebih banyak dibandingkan dengan murid-murid saya. Tetapi bukan berarti murid-murid saya tidak mengetahui pula hal-hal yang tidak saya ketahui. Mereka adalah anak-anak yang sering kali membuat saya 'kewalahan' karena ide-ide ataupun informasi menarik yang belum saya ketahui sebelumnya.

"Bagian guru bukanlah tugas menyuapkan bubur, suatu tugas yang melelahkan, melainkan pertukaran ide yang menyenangkan antara akalbudi-akalbudi yang setara ketika perannya adalah menjadi pembimbing, filsuf, sahabat." 

Dari ketiga peran yang tertulis tadi, menjadi sahabat bagi murid-murid, menurut saya itu hal yang paling mudah dilakukan. Tapi bagaimana menjadi pembimbing sekaligus filsuf untuk anak-anak? Kalau melihat kembali arti dari asal kata filsuf yaitu philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan), filsuf sendiri berarti pecinta kebijaksanaan. Belajar menjadi pecinta kebijaksanaan adalah belajar untuk tidak pernah 'menelan mentah-mentah' apa yang ia dapatkan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sekitarnya. Ia selalu mempertanyakan hal-hal yang mendasar, "Apa itu?", "Mengapa begitu?", "Bagaimana jika..?" Ya, memang tidak semua jawaban bisa langsung kita dapatkan. Tetapi hanya dengan mempertanyakan dan berusaha untuk mencari jawabannya sudah lebih dari cukup. Hal ini mengingatkan saya kepada satu sifat yang selalu diingatkan oleh Prof. Iwan Pranoto, SKEPTIS. Kata ini yang menjadi kunci berputarnya nalar kita. Haus untuk mencari tahu, terus dan terus. Jawaban yang belum ada atau kurang tepat sering kali kita temui, tetapi kita tidak boleh berhenti mencari.

Saya sendiri sering membandingkan pengalaman yang dialami murid-murid saya sekarang dengan apa yang saya alami ketika bersekolah dahulu. Sekolah menjadi sebuah rutinitas yang wajib. Belajar tanpa ada 'kesadaran', hanya untuk memenuhi 'norma standar' yang berlaku secara sosial, dan apa yang kita ketahui hanya sekadar amunisi untuk mengerjakan ujian yang harus saya lalui. Betapa hal ini menjadi pembunuh nomor satu karakter filsuf kita, yang sebenarnya sudah ada pada diri kita.

Di sekolah, mendongeng adalah salah satu kegiatan yang menjadi keseharian, salah satu hal yang tidak saya dapatkan saat bersekolah dulu. Saya senang sekali mendongeng dan mendiskusikan dongeng tersebut bersama murid-murid saya. Setelahnya kami selalu membahas tentang tokoh, tokoh mana yang mereka sukai, sifat-sifat tokoh tersebut, bagaimana jika mereka menjadi tokoh yang ada dalam dongeng tersebut. Banyak hal yang membuat saya terkejut dan terkagum-kagum mendengar tanggapan mereka atas dongeng tersebut. Betapa mereka adalah filsuf-filsuf cilik yang siap untuk berkembang. Selain mendongeng, kami juga memiliki rutinintas "Cerita Pagi", di mana mereka dapat berbagi pengalaman dan teman-teman yang lain dapat bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan cerita tersebut. Kelas menjadi sebuah 'kamar' tempat yang penuh kedekatan dan 'menjadi apa adanya' untuk saling berbagi dan mempertanyakan ide-ide tersebut, tanpa harus selalu tahu jawabannya. Sangat menyenangkan berada di dalam kamar tersebut.

Pada dasarnya, anak-anak adalah filsuf-filsuf cilik yang banyak terkesan dengan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Banyak hal-hal yang terlontar baik pernyataan maupun pertanyaan. Mereka adalah makhluk-makhluk yang ahli bertanya. Benak mereka adalah kumpulan pikiran tanpa batas, mulai dari hal-hal yang mendasar hingga yang imajinatif. Saya sepakat bila guru yang mendampingi mereka adalah orang-orang yang harus memahami karakter itu, lalu menghargainya dengan tetap merawat dan menyuburkan sifat tersebut.

Menjadi guru membuat saya harus kembali menghidupkan kembali sebagian yang mati, seperti apa yang juga dituliskan pada bab ini, "Semakin kita mengasah keterampilan kita sebagai filsuf, maka semakin baik pula kita menjadi guru."

Komentar

  1. It's so interesting to read your writing. You're the great innovative young teacher.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you, roro :) still working on it!

      Hapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer