Kebahagiaan 2.0. Keinginan vs Kebutuhan.

oleh : Iwan Pranoto*)


Tulisan ini diilhami oleh pak Djon, dalam sebuah diskusi oleh pernyataannya: "Pembangunan kita kehilangan sosialismenya." Betulkah? Pembangunan kehilangan kemanusiaannya. Pembangunan terpisah dari kebahagiaan manusianya. Pembangunan untuk peningkatan angka GDP. Pembangunan direduksi menjadi peningkatan ANGKA GDP. Validasi peningkatan pendidikan nasional direduksi menjadi capaian angka rata-rata UN. Pembangunan menjadi sekadar urusan data statistika.

Pada era kemerdekaan, bapak/ibu pendiri bangsa sudah menganggap pentingnya kebahagiaan. Ini dinyatakan dalam kata "kesejahteraan." Dalam "kesejahteraan" terkandung "kebahagiaan". Ini tidak sekedar cukup secara materi. Bung Hatta dengan jelas mengangan-angankan kebahagiaan: "Kami ingin membangun dunia di mana setiap orang merasa bahagia." Nah, masalahnya yang dikatakan KEBAHAGIAAN oleh Bung Hatta itu mungkin kebahagiaan versi lama. Ini kita sebut Kebahagiaan versi Beta.

Mungkin karena versi Beta, Kebahagiaannya Orla sudah jelas gagasannya, tapi tidak operasional. Saat itu, rakyat susah, miskin materi. Singkat kata, oleh ORBA dibenahi kekurangan itu, dengan memfokuskan pada peningkatan materi. Uang. Era Orba, kebahagiaan digagas ekuivalen dengan kepemilikan uang, materi. Bahkan pembangunan fokus pada uang/materi. Bhkn smp hutang. Untuk mencapai perolehan materi sebanyak-banyaknya dibutuhkan harmoni sosial dan kestabilan nasional. Mutlak itu! Akibatnya, untuk sesuatu yang namanya kestabilan nasional, tidak masalah walau hrs dibayar sangat mahal, antara lain dengan kebebasan individu/kekerasan. Kebahagiaan yang berfokus pada pemuasan materi ini kita sebut Kebahagiaan 1.0. Nah, Era Reformasi menyadarkan bahwa ada kebahagiaan lain.

Kebahagiaan di era sekarang ini seperti apa? Ini yang kita sebut Kebahagiaan 2.0.

Oleh @gstff, beberapa pekan lalu saya diingatkan tentang Cities of Happiness, karya Penalosa, Walikota Bogota. Penalosa mengatakan, negara-negara berkembang sampai kapanpun tidak akan sanggup menandingi negara maju, jika memakai indikator-indikator ekonomi tradisional. Dia mengatakan, negara berkembang harus merancang indikator kebahagiaan. Khususnya dia mengatakan sekolah, RS, taman harus dapat diakses setiap orang. Yang dirumuskan Penalosa, ternyata semuanya terkait dengan intelektualitas, khususnya terkait dengan 4 area: PQ, EQ, IQ, & SQ. Model modern untuk ini adalah model manusia utuh buatan mendiang Stephen Covey, yang dirumuskan di buku 8th habit-nya. Manusia menjadi agung (great) jika hasrat di 4 area tadi terpuaskan.

Pertama, urusan badani, Physical Quotient (PQ). Orang bahagia tentu harus dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, dan keamanan. Jadi Kebahagiaan 2.0 bukan tidak perlu materi, tetapi justru harus terpenuhi kebutuhan badani-nya. Tentunya di sini, pendidikan hrs menyiapkan anak didiknya agar dapat menghidupi dirinya, to make a living. Tetapi pendidikan harus dibarengi pemerintahan dalam urusan kesehatan dan keamanan. Jaminan dua hal ini harus diberikan negara. Tiap insan berhak memperoleh layanan kesehatan yang wajar dan perlindungan terhadap ancaman dalam bentuk apapun.

Kemudian, pada EQ. Manusia modern butuh interaksi sosial ke sesama. Jika mereka butuh merasa dibutuhkan lingkungannya. Bukti pentingnya interaksi sosial dan gagasan berbagi dalam kehidupan sekarang ini adalah Internet 2.0 ini. Pengetahuan di Internet 2.0 adalah unggahan kita semua. Jadi, memang manusia era sekarang secara alami bersikap berbagi. Pendidikan masa sekarang harus menyadari pentingnya gagasan berbagi ini. Gagasan ini yang perlu disuburkan di sekolah. Yang menarik pula, dalam riset psikologi, peak experience atau big moment itu ternyata sering diarasakan oleh para sukarelawan. Kebahagiaan 2.0 harus melibatkan kesempatan mewujudkan kontribusi kita ke lingkungan/komunitas (baca : Big Moment)

Kemudian area IQ. Manusia modern memiliki hasrat untuk belajar. Manusia modern tak bahagia jika hasrat belajarnya tak terpuaskan. Pada sisi lain, manusia adalah mamalia yang harus belajar seumur hidupnya. Manusia satu-satunya mamalia yang harus belajar berjalan seperti induknya 12 bulan. On the other hand, manusia modern rata-rata perlu belajar lebih dari 18 tahun untuk dapat hidup mandiri. Manusia adalah mamalia yang lahir 18 tahun terlalu cepat. Pendidikan 2.0 berperan untuk menyuburkan hasrat belajar siswa. Sangat menyiksa hidup di era skrg jk tak suka belajar. Bahkan untuk leisure-pun seperti main video game, mengoperasikan dvd player, manusia harus belajar.

Pemerintah sejatinya tak boleh membuat kebijakan yang memupuskan hasrat belajar anak. Kemudian, di area SQ, manusia modern butuh meninggalkan "warisan" atau "kenangan" baik. Kesadaran untuk "to leave a legacy". SQ ini muncul dalam kesadaran atas lingkungan hidup. Misalnya, kita lihat ibu-ibu yang membeli kebutuhan rumah tangga dalam bentuk isi ulang. Walau lebih repot, harus memindahkan ke botol lama, tapi kita lakukan. Why? Karena kita menyadari ingin meninggalkan dunia yang baik bagi cucu kita. Penyuburan kesadaran-kesadaran seperti itu yang perlu dibelajarkan di sekolah. Guru 2.0 perlu menyadari peran pentingnya dalam SQ ini.

Empat area tadi itu sebenarnya: Badan, Perasaan, Pikiran, Jiwa. PQ, EQ, IQ, SQ. To Live, To Love, To Learn, To Leave a Legacy. Body, Heart, Mind, Spirit. Pendidikan 2.0 harus secara sistematis menyirami 4 hasrat dari tiap siswa. Kebahagiaan 2.0 ini bukan berdasarkan materi tetapi intelektualitas. Harmoni sosialnya jg bukan didasarkan materi, tetapi intelektualitas. Satu lagi, terkait EQ, dalam konteks RI, pengalaman berinteraksi sosial dalam lingkungan multi culture harus didesain di sekolah dan luar sekolah. RI butuh pemimpin yang punya kecerdasan multi-culture dan ini hanya dapat dibangun melalui lingkungan yang multi-culture pula. Bagian yang terakhir itu mengingatkan saya terhadap tulisan pak Chaedar tentang liberal studies di Pesantren.

*) merapikan kultwit beliau :D

Komentar

Postingan Populer