merdeka berbahasa.

"Salah satu hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menggenapi kemerdekaan Indonesia adalah dengan menghargai dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dalam keseharian kita."

...

Saya memiliki satu keprihatinan tersendiri terhadap kemampuan berbahasa kita sebagai warga negara Indonesia. Dengan mudahnya kita gunakan bahasa asing dalam kehidupan kita sehari-hari dengan alasan lebih mudah dimengerti, lebih komunikatif. Dengan mudahnya pula kita membuat kata 'gaul' yang terkadang mengaburkan atau menggeser makna aslinya. Kalau seperti ini, kapan bahasa Indonesia bisa maju, mudah dimengerti, dan tentunya dibanggakan oleh kita sendiri sebagai 'pemilik' bahasa tersebut?

Salah satu pengalaman yang berkaitan dengan bahasa dalam keseharian saya adalah pengalaman saya mengajar bahasa di sekolah. Ada keprihatinan tertentu membaca karangan teman-teman kecil saya terutama yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa dengan baik dan benar, sama sekali bukan terkait ide-ide cerita yang orisinal dan imajinatif. Saya menyadari betul ini bukan kesalahan mereka.

Mengapa?

Saya dibesarkan di saat penggunaan bahasa gaul belum menjamur, di masa belum ada bahasa 'sms' yang selalu singkat dan terkesan tidak tertata dengan baik, di mana media masa masih menggunakan bahasa yang baik. Referensi penggunaan bahasa yang baik ketika saya belajar bahasa cukup banyak. Tapi apa yang terjadi sekarang? Terkadang kita pun tidak menyadari ketika kita menggunakan bahasa yang 'katanya' bahasa Indonesia, tetapi sebuah bentuk berbahasa tanpa aturan.

Sedangkan untuk murid-murid saya, referensi bahasa sangat sedikit. Generasi di atasnya sudah semakin sedikit yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Penggunaan sms, paparan TV, radio, internet, tidak juga memberikan referensi berbahasa yang baik. Novel-novel yang beredar sekarang pun sudah banyak menggunakan bahasa gaul. Ketika saya menanyakan hal ini pada salah seorang teman yang bekerja di penerbit, alasan mereka adalah "..supaya laku. Anak-anak jaman sekarang udah males baca novel yang bahasanya baku." Lalu dari mana mereka mendapatkan referensi, selain dari guru-guru di sekolah, yang terkadang 'lupa' juga bagaimana berbahasa dengan baik?

Alih-alih terpengaruh gaya berbahasa 'gaul' dari situs-situs atau blog di internet, saya malah senang dengan kemudahan mencari referensi bahasa. Salah satu situs bahasa yang sering saya gunakan adalah situs Kateglo, yang memudahkan pencarian terkait bahasa Indonesia. Yang lebih menarik lagi adalah halaman Beranda yang selalu memberi saya kosakata yang baru. Dari situs tersebut saya menyadari, betapa bahasa Indonesia itu kaya dan unik karena pengaruh beragam budaya yang ada di dalamnya!

Saya merasa beruntung, memiliki teman orang-orang yang sangat peduli dengan keberadaan bahasa Indonesia. Ada Mas Anwar, seorang editor yang selalu setia membalas sms saya ketika ada pertanyaan mengenai kata yang tepat untuk satu penggunaan tertentu. Ada pula Mas Ivan (Ivan Lanin) yang juga selalu menjawab beberapa pertanyaan kebingungan saya mengenai kata-kata bahasa Indonesia.

Saya sendiri penggemar berat tulisan-tulisan di blog Mas Ivan. Saya sangat terkesan dengan tulisan-tulisan tentang bahasa di sana, terutama artikel "Sikap negatif dalam berbahasa Indonesia". Saya juga penggemar blog "Rubrik Bahasa", artikel-artikel tentang bahasa Indonesia yang dikumpulkan dari berbagai media massa. Dari kedua blog tersebut saya banyak belajar.

Bahasa memang berkembang terus seiring dengan perkembangan masa. Tetapi apakah perkembangan bahasa itu harus dengan 'terjajah' oleh bahasa asing? Apakah kita menyerah dengan menggunakan segudang kata serapan alih-alih menggunakan bahasa yang telah ada dengan alasan kemudahan?

Ada yang berpendapat bahwa mengikuti aturan berbahasa Indonesia  itu sama dengan berbahasa kaku. Ngga asyik. Tapi saya sendiri yakin, dengan latihan dan kebiasaan, bahasa itu akan mencair dengan sendirinya. Bahasa itu bisa indah dengan identitas yang sudah dimilikinya.

Memang, dalam keseharian, saya masih melakukan kesalahan-kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Baik dalam penggunaan kosakata maupun dalam ketatabahasaan. Tapi saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak 'menyerah' dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Saya sendiri sangat menyayangkan 'kehidupan bahasa Indonesia' yang ada saat ini. Sering kali ada pergantian kebijakan dalam bahasa Indonesia, tetapi kita sebagai warga negara tidak pernah mendapatkan sosialisasinya. Kita juga tidak mendapatkan arguman mengapa kebijakan lama diganti. Hanya tiba-tiba mendapatkan kata-kata dan aturan di KBBI edisi ketiga berubah di edisi keempat. Dan ini yang sering kali membingungkan, apalagi harga KBBI yang cukup mahal, jadi terkadang bila kita sudah memiliki KBBI lama, tidak tergerak untuk membeli KBBI baru. Untuk ini saya cukup bersyukur KBBI sekarang sudah bisa diakses dengan mudah secara daring (dalam jaringan, online).

Jadi, yuk kita isi kemerdekaan dengan berbahasa Indonesia yang baik :)

Merdeka!!

baca juga : bahasa.
...

terima kasih untuk Mas Ivan yang sudah berhasil 'manas-manasin' saya untuk membuat tulisan ini :)

Komentar

  1. Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa--di samping membaca, berbicara, dan menyimak. Sama seperti berbagai keterampilan lain, bersepeda misalnya, keterampilan berbahasa tidak akan terjaga tanpa dilatih. Tetaplah menulis @mbakdan. Niscaya kita akan tetap merdeka berbahasa dengan bahasa Indonesia yang benar dan luwes.

    BalasHapus
  2. Terima kasih, Mas Ivan! Semoga energi untuk tetap menulis tidak padam.. Jangan bosan ditanya ini itu, ya! :)

    BalasHapus
  3. Pemikiran yang menarik kak Danti. Memang kita perlu sering dibenturkan dengan pemikiran-pemikiran reflektif seperti ini supaya kita lebih giat mencari dan menggali. Di Indonesia ini, hampir segala sesuatu mudah sekali terlibas arus dari luar. Sepertinya ini juga kegagalan kita membangun bangsa, seperti yang diungkapkan Pak Daoed Yoesoef ya. Mungkin juga setelah ranah kebudayaan dipisahkan dari ranah pendidikan : Depdikbud menjadi Depdiknas... Terima kasih untuk berbaginya...

    BalasHapus
  4. jadi ingat mbak dan, saya pernah dinasehati salah seorang teman. Waktu itu sih ceritanya saya lagi belajar menulis (sekarang malah jadi editor. hehe) "Daripada kamu belajar sungguh-sungguh dalam penulisan bahasa asing, kenapa kamu tidak mendalami bahasa ibumu saja (bahasa Indonesia)? Karena kalau bahasa asing, sekeras apapun kamu berusaha, tetap sulit kamu kuasai mutlak karena itu bukan bahasa ibumu."
    Menurutnya, orang Indonesia itu seharusnya menulis dengan bahasa Indonesia sebaik-baiknya dan nantinya biarkanlah orang-orang asing menerjemahkan buku itu untuk kita.
    Intinya sih sama, ayo berbahasa yang baik. Meskipun dianggap kuno atau terlalu kaku, tapi selagi kita nyaman, tak masalah toh? =)

    BalasHapus
  5. Setuju dengan Mas Ivan! Sejak mulai menulis, sangat terasa kemampuan berbahasaku mulai meningkat dan cara berpikir semakin sistematis. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang mendorongku menulis, Mbak Dan! Aku masih harus banyak belajar nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kemampuan berbahasamu terasah sangat cepat, terbaca di tulisan-tulisanmu, dek! ayo kita sama-sama menyemangati juga belajar terus.. terus.. dan teruuss... :)

      Hapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer