maaf, bahasa Indonesia saya buruk.

Pertama-tama, maafkan untuk bahasa Indonesiaku yang buruk. Hanya ingin berbagi saja… Kemaren aku melihat satu keluarga muda. Bapak, ibu, dan dua anak perempuan yang masih kecil. Yang satu 4 taun, yang satu lagi kira-kira 2 taun. Anak yang besar lucu banget, bikin aku pengen kenalan. Dan akhirnya berkenalan...

"Adik, siapa namanya?"

Hehehe, masih malu-malu dia. Cuma senyum-senyum dan megangin tangan ibunya, trus nyumput dibalik ibunya.

"Ih.. kakak, tuh, ditanya auntie. Kok diem aja".

Ibunya mbujuk si anak kecil itu buat kenalan sama aku. Heeee?!?!?! Auntie? Hey, aku orang Indonesia tulen, dan aku yakin mereka juga. Kenapa harus pake istilah itu sih? Hmmm.. masih ada kan kata lain. Istilah Bibi yang keliatannya sudah mengalami penurunan arti karena saat ini lebih sering dikonotasikan sebagai orang pramuwisma, udah tidak lazim lagi digunakan. Masih ada sih temenku yang memanggil adik dari orang tuanya dengan sebutan itu, dan sepertinya di daerah-daerah juga masih banyak yang menggunaan istilah Bibi untuk konteks yang ada dalam kamus. Dan itu tidak menjadikan istilah Bibi menjadi tidak keren.

Aku sendiri lebih memilih dipanggil bulik sama ponakanku. Baiklah, kalau ngga mau pake kata bibi atau bulik, masih ada istilah Tante. Walaupun kata ini serapan juga dari bahasa Belanda, tapi sepertinya sudah masuk dalam bahasa Indonesia. Ngga aneh kalau beberapa istilah Belanda juga di-Indonesiakan mengingat kita tiga setengah abad dijajah mereka.

Ngga cuma masalah tadi aja, masih banyak sebetulnya contoh dimana orang-orang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa lain biar lebih keren. Buat aku ini salah satu gejala kecil dari inferior complex yang ada di Indonesia (maafkan, apakah ada istilah itu dalam bahasa Indonesia?;p). Menganggap sesuatu yang berbau-bau luar negeri lebih keren dari apa yang kita punya. Tampaknya gejala ini menjamur lebih cepat karena kebanyakan TK-TK sekarang pake bahasa Inggris sebagai pengantar. Mungkin keliatannya sepele sih, pake bahasa Indonesia dan bahasa Inggris campur-campur. Dan tampaknya ngga cuma masalah bahasa aja kan? Banyak hal lain yang diserap dari luar dianggap lebih keren dan lebih bergengsi dibandingkan kalau kita menggunakan apa yang kita punya.

Fasih menggunakan bahasa Inggris atau bahasa lain manapun memang sebuah nilai tambah yang besar. Apalagi jaman sekarang yang katanya jaman globalisasi, sepertinya sudah menjadi kewajiban. Tapi apakah dengan begitu bahasa Indonesia menjadi kalah pamor dan bisa dinomor duakan atau dikoyak-koyak? Buat aku tidak sama sekali. Baiklah, aku akui, memang sulit menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Apalagi kalo lagi menerjemahkan satu istilah bahasa asing -atau bahasa daerah juga-, susah banget nyari kata yang pas. Kadang-kadang, ngga nyaman juga kalo pake bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di komputer atau HP. Tapi kalo gara-gara alesan bahasa Indonesia ngga keren, ngga gaul, waduuuh.. kalo setiap orang mikir kaya gitu, gimana bahasa Indonesia mau berkembang dan dihargai?

Ambil salah satu contoh. Kata ‘bajik’, yang sekarang udah jarang dipakai. Artinya apa? Hahaha, karena jarang dipakai, orang jadi lupa kata ‘bajik’ itu artinya apa. Bentar…aku liat kamus dulu.

ba·jik n, ke·ba·jik·an n sesuatu yg mendatangkan kebaikan (keselamatan, keberuntungan, dsb); perbuatan baik: kita wajib berbuat - kepada sesama manusia 

Nah, sekarang kata itu bisa digunakan kembali. Masih ada kata-kata lain yang jarang dipake sekarang. Ayo… ada yang mau nambah? Lumayan loh, buat nambah-nambah perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia :) Jadi, ayo, kita coba untuk menghargai bahasa Indonesia, mulai dari hal-hal kecil. Kalo ngga dimulai dari kita, warga Indonesia sendiri, gimana orang lain mau menghargai bahasa kita?

Betul ngga?

Komentar

Postingan Populer