Do with your heart..


Bekerja sambil belajar atau belajar sambil bekerja? Aku pikir itu sama saja, tergantung 'kacamata' apa yang sedang dipake. Kacamata bekerja atau kacamata belajar. Karena apapun yang kita kerjakan selalu membawa hikmah dan pelajaran tersendiri buat kita. Kerjaanku? Mulai dari yang pertama sampe sekarang, bukan lahan untuk seorang sarjana Teknik Lingkungan seperti aku. 

Sebelum aku lanjutin lagi ceritanya, aku cerita dulu kenapa aku masuk TL. Dari dulu ngga pernah kebayang untuk kuliah di sini. Malah aku pernah mem'black-list' jurusan ini waktu SMP, karena senior aku yang kuliahnya ngambil TL cerita kalo praktikumnya harus masuk gorong-gorong air kotor. Yakssss… Dulu aku pengen banget masuk seni rupa atau desain (yang akhirnya kandas karena larangan orang tua... ya sudahlah, yang ini tidak perlu diperpanjang lagi), atau kuliah arsitek. Salah satu hal yang bikin aku memilih TL, karena pas SMA aku tau salah satu sub jurusan TL adalah kesehatan lingkungan, satu bidang yang menurut aku kalaupun aku ngga kerja di TL, semua orang harus tau karena ini dasar dari sanitasi baik perorangan maupun keluarga. Mestinya pelajaran ini mulai diajarin dari SD. Yah, kalo di Kesling mah minimal bisa jadi bekal pengetahuan seorang ibu untuk keluarganya...hahahaha. Kecuali jadi panitia pelatihan kader lingkungan selama beberapa hari (yang juga berlanjut dengan survey yang berhubungan dengan ilmu TL), aku ngga pernah kerja di bidang TL. 

Banyak yang nanya, kerjaannya kok ngga ada yang nyambung sama TL sih? Alasan pertama, aku mau ‘meluruskan’ kembali apa yang berbelok saat kuliah (gara-gara kebanyakan pake otak kiri kali ya?). Kedua, basically aku suka dengan pekerjaan non-teknik yang banyak berhubungan dengan orang, apapun, asalkan jangan sampe aku ngerjain apa yang aku ngga suka, termasuk pekerjaan ‘berjualan’ atau yang jamnya jam kantoran (bisa mati kebosanan, haha..). Biasanya kalo ada yang nawarin kerjaan, aku tanya temenku kenapa dia ngajak aku –yang nota bene belum berpengalaman atau mengerjakan pekerjaan yang sama- dibandingkan dengan orang lain. Kalo alesannya masuk akal, boleh lah, aku terima. Selain aku tanya sama orang yang bersangkutan apa job desc-ku, aku juga ‘wawancara’ paman google, apa aja yang harus aku kerjain atau bisa aku kerjain. 

Semua yang pernah aku kerjain bisa dibilang ngga ada yang nyambung. Dari sekolah musik, kafe, radio, majalah, rajutan, sampe yang sekarang ngerjain post-produksi film. Kaya kutu loncat ya? Haha, terserah orang bilang apa, tapi yang jelas aku seneng dan sadar yang aku kerjakan walaupun terkadang harus pontang-panting ngejar ketertinggalan dan banyak belajar. Pendapatan? Hmm.. aku ngga mau menghitung semuanya dengan uang, tapi yang penting seimbang dan realistis lah, karena banyak hal yang ngga bisa digantikan dengan nominal berapapun. Sama seperti tulisan salah satu iklan popok bayi, ‘ngga semua yang penting itu bisa dihitung, dan ngga semua yang bisa dihitung itu penting’. Bener ngga?

Salah satu pekerjaan sebelumnya, aku bertahan 2 tahun di sebuah radio. Aku tau itu bukan lahanku tapi aku seneng banget karena bisa sambil menyalurkan hobi dengerin musik yang aku suka. Setiap hari!!! Menyenangkan sekali Dan aku tau, masuk ke tempat itu, seperti masuk ke ‘sekolah baru’. Ngga semuanya menyenangkan –karena ngga ada tempat kerja yang sempurna-, tapi tidak ada artinya dibandingkan dengan ilmu dan kesenangan yang didapat. Kata temenku, kantorku itu lebih suka nerima orang yang dari latar belakang pendidikannya ngga di bidang media. Salah satu alesannya, karena biasanya mereka jadi tidak cenderung sok tau, dan biasanya orang yang sadar bahwa dia ngga tau, mereka membuka ‘tutup botol’ otak mereka sebesar-besarnya. Murni pembelajar. Dan lebih mudah dibentuk sesuai kehendak mereka tentunya, haha.. Sayang, aku brenti karena badanku emang ngga kuat kalo ngga punya jam biologis yang rapi (dan beberapa alesan printilan lagi sih, tapi ga penting). 

Beberapa hal tadi juga berlaku sama kerjaan-kerjaanku berikutnya. Banyak belajar, berbekal hobi dan kesenangan lainnya, aku jalanin. Sekarang? Sambil ketak ketuk apa yang harus diketik, aku sambil cari-cari bahan bacaan biar ngga blank banget. Kerasa banget, otak muter terus dengan kecepatan tinggi. Kaya gini ini yang aku seneng, karena berasa nambah ilmunya. Alhasil, kerjaan yang biasa dikerjain hanya dalam beberapa jam, kadang-kadang bisa jadi molor karena disambil dengan cari ilmu atau browsing sana sini. Buat aku yang penting, cari cara paling nyaman untuk menyelesaikan semua kerjaan. Kesimpulan buatku? Aku mencintai yang aku kerjakan, dan aku kerjakan apa yang aku cintai. 

Komentar

Postingan Populer