hadiah.
Setiap hadiah yang kauterima dari seorang teman merupakan doa untuk kebahagiaanmu
-Richard Bach-
Tulisan ini tiba-tiba saja ada di depan mata. Tertera di sebuah pembatas buku –bonus dari majalah langganan- yang aku ambil begitu saja. Sangat kebetulan tampaknya karena kemarin baru saja ada ‘transaksi’ hadiah dengan seorang teman. Tulisan itu jadi membuatku ingin menulis sesuatu tentang hadiah. Dan memang betul sekali apa yang disampaikan Bach ‘hadiah adalah doa untuk kebahagiaan orang yang kita beri’. Dengan memberi hadiah, kita mengharapkan orang tersebut bahagia dengan pemberian kita. Kita pun bahagia melihat orang yang kita beri bahagia atas pemberian kita. Seperti ada timbal balik energi positif yang saling menguatkan. Itu yang menjadikan kata hadiah begitu indah, diharapkan banyak orang, dan memberikan aura yang sangat bagus. Aku percaya, apapun yang kita beri ke orang di sekitar kita, dilandasi dengan adanya energi positif lebih yang ingin disalurkan, entah perhatian, cinta, sayang, atau apapun itu.
Hadiah. Kado. Apapun istilahnya. Aku bukan orang yang biasa memberi hadiah kepada seseorang yang berulang tahun seperti kebiasaan beberapa orang, yang terkadang bahkan sampai mengusahakan mendapatkan sesuatu untuk diberikan tepat di hari ulang tahun orang terdekatnya. Aku juga bukan orang yang sering memberikan hadiah untuk seseorang dalam bentuk barang. Dan biasanya, aku memberikan sesuatu kalau kebetulan ada barang yang memang dibutuhkan orang yang akan aku beri, sesuatu yang merupakan bagian dari hobby, bagian dari apa yang dia suka, atau sesuatu yang menurutku sangat sesuai untuk orang itu. Misalnya kalau jalan-jalan ada barang yang mengingatkan aku pada seorang teman, dan kebetulan ada rezeki untuk mendapatkannya, aku beli benda itu untuk aku kasih.
Aku paling suka mendapat hadiah kalau ada muatan personal yang kuat di dalamnya. Entah ada cerita tertentu di balik barang itu, atau kalau hadiah yang diberikan itu buatan tangan sang pemberi. Kalau ada kisah di balik sebuah barang, hmm, sepertinya akan membuat momen pembangun kisah itu semakin kuat. Tapi kalau hadiah buatan tangan, tidak peduli berapapun harganya, ada ‘energi’ besar yang terasa di benda itu. Karena itu pula, aku beberapa kali memilih membuatkan sesuatu untuk orang-orang terdekat. Walaupun pada kenyataannya ngga bisa semua orang-orang terdekat itu aku buatkan sesuatu. Karena ngga ada waktu? Salah satu alasan klasik, atau -kalau temenku bilang sih- energinya belum cukup untuk membuatkan sesuatu. Hahahaha.. Entahlah, tergantung keadaan juga :)
Kalau tadi dibilang hadiah adalah doa untuk kebahagiaan orang yang kita beri, sebaliknya, untukku doapun menjadi hadiah yang indah. Doa, bisa kita berikan kapan saja, di mana saja, berapapun jumlahnya. Kekuatannya tidak hanya pada yang memberi dan diberi, tapi menyertakan Allah, sebagai Sang Maha Pemberi, Sang Maha Memiliki. Yang bisa memberi apapun pada yang kita doakan. Yang bisa memberikan apapun yang ngga sanggup kita berikan. Jadi, mari kita hadiahi orang-orang terdekat kita dengan doa…:)

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..