Mengkhidmati (Hari) Kemerdekaan

Pada tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang Slametan, acara yang digelar untuk merekat rasa seluruh anggota Rumah Belajar Semi Palar. Salah satu tujuan acara tersebut adalah mengkhidmati kemerdekaan yang ingin saya ceritakan tersendiri pada tulisan ini. Mengapa? Karena saya mendapat "rasa baru" dalam mengkhidmati peringatan kemerdekaan Indonesia.

Acara ini bukan "upacara" pertama yang membuat saya terhenti menyanyikan "Indonesia Raya" di tengah karena menahan isak haru. Upacara terakhir yang begitu mendalam adalah upacara di sekolah yang begitu khidmatnya sehingga banyak dari kami tersentuh. Namun kali ini saya merasakan bahwa Sang Merah Putih berkibar tidak saja khidmat, namun juga sederhana dan mendalam.

Melalui berbagai permainan, setiap kelompok memang mendapatkan bahan-bahan yang sama, namun cara mendirikan tiang dan menaikkan benderanya, menjadi kebebasan tiap kelompok. Senang sekali melihat berbagai cara dan akal para orangtua dan anak melakukannya. Tiang ditegakkan dari 3 bambu mentah. Bendera yang masih hangat jahitannya. Peserta upacara tanpa seragam memberi hormat pada bendera dengan kesederhanaan.

Yang saya sangat tidak sangka rasanya begitu dahsyat : menaikkan Sang Merah Putih dengan "Syukur". Saya sempat ragu apakah Merah Putih ini boleh dinaikkan dengan lagu selain Indonesia Raya, ternyata boleh. Liriknya yang syahdu, panjatan syukur karunia Tuhan dalam lantunannya, membuat penghormatan bendera tidak saja berbalut rasa hormat dan bangga namun juga menjadi khusyuk.

Pengibaran Sang Merah Putih saat Slametan.
Foto dipinjam dari orangtua Akila (SD1)


Setelah penaikan bendera dalam kelompok-kelompok kecil, kami berkumpul bersama untuk melanjutkan pengkhidmatan kemerdekaan. Sebuah puisi yang baru digubah beberapa teman dan orangtua, dibacakan dengan lantang oleh dua perwakilan siswa, lalu kami semua menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan pengibaran bendera oleh Mas Imam. Lagi-lagi saya tidak sanggup menyanyikan lagu tersebut sampai habis. Kang Aat Soeratin, seorang budayawan senior Bandung, menyambung dengan pemaknaan tentang "Cinta Bumiku, Cinta Negeriku", tema besar dari Slametan kali ini. Dari beliau saya mendapatkan arti baru dari nasionalisme dan kesadaran : sadar diri, sadar lingkungan, sadar tujuan. Sadar diri adalah mengenali siapakah kita, peran kita, kebaikan apa yang dititipkan Tuhan pada diri untuk kita bagikan kepada sekitar kita. Sadar lingkungan adalah mengenali, membaca hal-hal yang diceritakan oleh sekitar kita. Sadar tujuan adalah mengenali apa yang harus kita lakukan, ke arah mana kita berjalan, bagaimana kita bisa mencapai tujuan kita.

...

Banyak cara memberi makna nasionalisme, dan banyak cara pula menghidupi nasionalisme. Upacara bisa sekadar ritual yang dijalankan tanpa hati, saat kita hanya diwajibkan mengikutinya, tanpa diajak memaknainya. Waktu saya bersekolah dulu, sekolah memang memberi cap bahwa upacara itu penting, dengan memberikan hukuman yang "berat" supaya tidak ada anak-anak yang bolos saat upacara. Namun lepas dari hukuman tersebut, kami tidak diajak untuk menilik kembali makna upacara. Upacara hanya dimaknai sebagai kewajiban, terkadang lupa melekatkan dengan hak sebagai negara merdeka juga kesadaran kita menghidupi kemerdekaan itu sendiri.

Untuk saya, kesadaran ini bukan satu jalan mudah, dan betapa menghidupi kata tersebut adalah perjuangan di setiap detiknya.

Komentar

  1. Ibu guru, saya izin untuk menggunakan cerita ini sebagai bahan mengajar kuliah calon guru ya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer