Slametan : Merekat Rasa di Awal Tahun

Bergabung dengan Keluarga Besar Semi Palar, lagi-lagi memberikan kemewahan untuk saya. Bulan Agustus ini salah satunya. Kami semua -orangtua, murid, dan tentunya guru- berkumpul untuk acara tahunan Slametan. Acara ini digelar setiap tahunnya untuk menyambut tahun pendidikan baru, bersyukur atas tahun baru yang akan kita jalani bersama-sama.

Dari beberapa kali acara Slametan, tahun ini sangat berkesan untuk saya. Pertama, sebagai acara "perekat rasa" -meminjam istilah yang cantik dari Kak Lyn- antara keluarga dan sekolah. Tahun ini, orangtua dari antarjenjang saling bercampur dalam 10 kelompok. Hal yang istimewa tahun ini, panitia acara tidak hanya dari pihak sekolah namun juga perwakilan orangtua dari setiap kelas.

Satu langkah sederhana mengajak orangtua ini ikut terlibat langsung dalam persiapan, namun hasilnya tidak satu langkah, namun jauh di atas harapan. Orangtua-orangtua "juara" ini menjadi motor-motor kelompok yang membuat acara jadi seru dan padu. Sangat terasa kekompakkannya. Karena menginginkan acara ini berjalan seramah mungkin dengan lingkungan, para orangtua ini menyambut baik ajakan sekolah untuk membawa makanan khas Indonesia tanpa kemasan untuk mengurangi sampah, bertanggung jawab dengan membawa kembali sampahnya, sampai mengaturkan kendaraan menuju lokasi dengan sistem "nebeng" agar sesedikit mungkin kendaraan yang digunakan. Bukan ajakan sederhana karena para orangtua jadi berepot-repot mengaturkan ini itunya, namun mereka tetap bersenang hati.

Dalam acara Slametan ini, kami melakukan beberapa kegiatan yang mengantarkan kami pada acara puncak, yaitu mengkhidmati hari kemerdekaannya. Setiap kelompok harus melalui beberapa tantangan untuk dapat mengibarkan Merah Putih. Teman-teman SD, SMP, dan KPB (Kelompok Petualang Belajar, jenjang SMA di Semi Palar) perlu melalui jalur hiking atau trekking untuk mencari bahan-bahan yang akan digunakan sebagai tiang bendera, seperti tiang-tiang bambu dan kertas koran. Sementara teman-teman di usia dini -dari Kelompok Belajar hingga kelas 2 SD- bersama orangtua, melakukan beberapa permainan untuk mendapatkan bahan-bahan lain seperti kain merah, kain putih, benang dan jarum jahit, juga tali untuk pengereknya. Kain dan benang-jarum? Ya, setiap kelompok memang harus menjahit sendiri benderanya!

Walaupun dilakukan secara berkelompok, namun permainan-permainan ini bukanlah lomba. Semua kelompok diajak untuk saling membantu, agar acara puncak yaitu penghormatan bendera, bisa dilakukan bersama-sama.

Oya, selain mendirikan tiang dan menaikkan bendera, setiap kelompok membuat kolase Garuda Pancasila dari bahan-bahan alam yang dikumpulkan di lokasi. Syaratnya, tidak boleh memetik daun atau benda alam lain, tapi mengumpulkan daun, bunga, atau biji pinus yang sudah jatuh. Ternyata, mencukupi untuk 10 garuda besar! Dan ternyata lainnya, yang semangat mengerjakan kolase ini adalah ibu-ibu. Seperti mendapatkan mainan baru membuat karya bersama.

Hal yang membuat saya salut dan bangga dengan orangtua-orangtua di sekolah kami, selesai acara hampir tidak ada sampah yang tertinggal di lokasi acara. Teman saya yang bertugas untuk memastikan tempat kegiatan bersih, hanya menemukan rafia, plastik bekas krupuk, dan kertas kecilnya.

Semesta yang murah hati juga memberikan langit biru dan cuaca cerah, sementara kami sempat khawatir acara akan terganggu karena beberapa hari sebelumnya hujan. Tepat setelah kami beranjak pulang, hujan pun mulai merintik. Alhamdulillah.. Saking menikmati acara ini, saya sampai lupa untuk mengambil gambar, seperti yang biasa saya lakukan. Ah, biarlah kegiatan hari ini diabadikan dalam hati saja.

...

Bagi saya, Slametan ini menjadi cerminan bagaimana seharusnya sekolah dan rumah (keluarga) berelasi. Sekolah dan orangtua sama-sama belajar, saling mengajak, dan saling mengingatkan untuk memaknai nilai-nilai yang akan dijalankan bersama. Tentunya banyak sekali nilai baik yang perlu kita jalankan, kali ini adalah mencintai tanahair, mencintai bumi. Tahun berikutnya, bisa jadi ada nilai baik lain yang perlu kita usung bersama. Saat kita membangun kesadaran, memang banyak hal terasa "merepotkan", namun setelah nilai-nilai tersebut membadan pada diri, kesulitan dan kerepotan ini sedikit demi sedikit akan hilang. Kita tidak hanya sukarela melakukan segala kerepotan tersebut, namun bersuka cita melakukannya.

Harapan saya, semoga tahun ini berjalan lancar seperti Slametan ini, dan kami bisa menghadapi setiap tantangan yang diberikan kepada kami sehingga kami bisa menjadi lebih baik : manusia yang eling, berkesadaran.

Amin.

Video : Lian Kyla (KPB)

Komentar

Postingan Populer