#satutahunpulang

"Dan, yakinkan betul kalau kamu ingin kembali mengajar, ya. Bukannya tidak suka kamu kembali, tapi yakinkan diri bahwa kamu memang ingin kembali. Memang jalanmu kembali. Kamu bisa punya banyak kesempatan lebih luas dan mungkin lebih baik di luar (sekolah) sana, yang bisa jadi tidak akan kamu dapatkan kalau kamu kembali ke sekolah."

Kira-kira seperti itulah pesan "Ibu" -begitu kami memanggil Kak Lyn, koordinator saya dulu dan lalu kami berteman dekat- ketika saya mengungkapkan wacana untuk kembali mengajar di sekolah tempat saya pernah mengajar : Rumah Belajar Semi Palar, Smipa.

Dan sudah satu tahun pendidikan saya kembali mengajar setelah dua tahun berkelana.

Menyesal?

Tidak sama sekali. Bahagia rasanya bisa pulang kembali.

Mengapa saya bilang pulang? Karena saya merasa Smipa lebih seperti rumah daripada sekolah.
*saya sudah pernah cerita sebagian di sini.

"Home is where the heart is."

Lalu Puti, sahabat saya bertanya, "Gimana rasanya pulang setelah dua tahun berkelana?" Ya, pertanyaan-pertanyaan Puti selalu membuat saya kembali merefleksikan perjalanan saya. Dan buat saya jawabannya tidak akan bisa dijabarkan dalam satu dua kalimat. Untuk itu saya menjanjikannya tulisan ini.

Mundur dulu mengingat-ingat.

Petualangan dua tahun kemarin dimulai saat saya memutuskan berhenti sejenak. Padahal feeling saya waktu pertama kali menjadi bagian dari keluarga Smipa, saya akan bertahan cukup lama di sana. Ternyata tidak.

Dua tahun "berenang" di Smipa cukup membuat saya terkuras. Jadi saya butuh jeda untuk mengambil nafas. Ngarenghap. Ambegan sik. Sepertinya kali itu saya mengalami "bangkrut energi".

Tapi memang, tidak ada kurikulum yang lebih baik daripada Kurikulum Semesta. Diberinya aku dua tahun yang sebenarnya tidak kalah menguras, tapi banyak banget belajar. Saya sendiri menyebutnya kemewahan menjeda. Kesempatan untuk mengunjungi banyak sekolah. Berjumpa dengan banyak guru. Keleluasaan waktu untuk belajar dan mengulik. Tanda tanya yang terjawab. Ilmu baru. Sudut pandang baru. Rasa baru. Sedikit banyak menjadikan "aku" yang baru dan ternyata semuanya menjadi amunisi untuk kembali.

Siapa sangka?

Alhamdulillah, ya Allah.

Sebelum saya kembali, ada sebagian keinginan untuk mencoba berkarya di sekolah lain, belajar sistem dan budaya sekolah yang berbeda. Namun, setelah mengendapkannya dalam waktu hening, hati mengajak saya kembali ke Smipa.

Ya, saat kita mendengarkan hati dengan baik, itulah keputusan tepat. Hati tak pernah salah. *halah*

Sebelum berkelana, aku mengajar SD. Begitu menyampaikan bahwa saya akan kembali, pihak sekolah sudah memberi ancer-ancer bahwa saya akan memegang kelas di SMP.

Apa? SMP?

Waktu pertama kali aku memutuskan untuk mengajar, SMP sebenarnya jenjang yang paling aku "hindari".

Kenapa?

Masa SMP itu aku ingat dan aku rasakan sebagai masa anak-anak sedang puber-pubernya, masa-masa berontak, galau, dan "ngga jelas". Mungkin masa paling menyebalkan dari seseorang itu masa-masa puber. *ssst.. di masa ini, saya pernah membuat menangis seorang guru. Maaf ya, Bu*

Jadi, menyesal mengajar SMP?

Alhamdulillah, setelah setahun ini, aman-aman saja. Iya berontaknya, iya galaunya, iya ngga jelasnya, dinikmati saja. Tapi yang jelas lebih banyak serunya.

Mengajar SMP memang berbeda rasanya dengan mengajar SD. Mungkin waktu di SD dulu lebih banyak paper-work-nya, sekarang di SMP tidak sebanyak dulu.

Tapi, mengajar anak-anak yang daya nalarnya sudah jauh lebih berkembang memang memberi tantangan sendiri. Pekerjaan berbasis kertas memang lebih sedikit, tapi olahannya menurutku jauh lebih kompleks, sehingga cara memfasilitasinya pun banyak berbeda. Dari banyak kegiatan aku sering melihat mereka sebagai teman berdiskusi. Olahan-olahannya lebih nyata, sehingga mereka bisa banyak belajar langsung dari lapangan. Dengan konsep Pembelajaran Berbasis Proyek dan tematik, perencanaannya pun perlu pertimbangan lebih banyak dan lebih matang.

Yang jelas, setahun ini saya labelkan dengan tahun KERJA KERAS. Kerja keras untuk saya kembali mengatur frekuensi dan memetakan kembali pembelajaran karena berada di jenjang yang baru. Kerja keras untuk membangunkan semua potensi yang masih "tertidur" dari teman-teman (yang sudah tidak) kecil saya.

Dan saya sekarang sangat bangga pada mereka, karena bisa banyak berkarya tahun ini : membuat stop motion iklan tanggap bencana, belajar tentang regulasi negara dengan membuat "Undang-Undang Negeri Bumi Rajata", membuat permainan papan untuk pembelajaran sejarah, melakukan perjalanan mandiri (terkemas ekspedisi) ke Lasem dan Semarang, serta berbagi pengalaman melalui 2 buah buku yang dibuat hanya satu setengah bulan.

Jadi, nikmat (menjadi guru) mana yang kamu dustakan?


Komentar

  1. Home is where the heart is ;) sukses selalu Danti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, indeed.
      Sukses selalu juga untukmu!

      Hapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer