senyumku untuk dunia.


"Give your smile to the world, and the world will smile at you"

Apakah anda percaya dengan kutipan di atas? Bayangkan bila pada satu pagi Anda berjalan-jalan, lalu berpapasan dengan seseorang. Ia tersenyum kepada Anda, dan menyapa Anda dengan ramah, "Selamat pagi!". Tentunya perasaan anda akan senang, dan bisa jadi anda akan lebih bersemangat untuk berkegiatan di hari itu. Tapi apakah pengalaman tersebut menjadi sebuah pemandangan yang lazim dalam keseharian anda? Bila ya, anda sungguh beruntung. Tetapi bila tidak, anda bisa bertanya pada diri anda sendiri, mengapa budaya tersebut hilang dari sekitar anda.

Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah, penuh senyum. Tapi apakah anggapan seperti itu masih berlaku hingga saat ini? Memang tidak setiap daerah kehilangan budaya ramah dan tersenyum, tetapi di kebanyakan kota besar, budaya tersebut seakan hilang. Kita sering kali menjumpai orang-orang di jalan dengan perasaan takut, waswas, dengan alasan waspada dan kekhawatiran kita harus bersiaga siapa tahu orang yang kita jumpai itu orang yang bermaksud jahat. Semahal itukah harga budaya ramah penuh senyum di kota besar?

Setiap orang menginginkan sebuah negara yang sejahtera penuh senyum. Menurut saya, hal tersebut hanya bisa dilakukan bila masyarakatnya sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya. Kita selalu berpikir kebutuhan dasar adalah sandang, pangan, papan. Padahal kemapanan sandang, pangan, papan tidak menjamin sebuah kebahagiaan. Ada orang-orang yang merasa tidak bahagia meskipun secara materi ia hidup lebih dari cukup. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang mungkin kita katakan bukan orang mampu, tapi ia merasa bahagia. Mereka masih mau memberikan apa yang mereka miliki, walaupun yang mereka miliki tersebut bisa dibilang hanya sekian yang mereka punya. Untuk mereka bahagia adalah bukan ketika kita memiliki banyak hal, tetapi ketika bisa memberi banyak. Kebutuhan dasar batiniah, bahagia, menjadi hal terpenting.

Sekarang, bagaimana kita memenuhi kebutuhan dasar batiniah tersebut?

Salah satu kunci dalam menjadikan sebuah negara bahagia adalah masyarakat yang terdidik. Bukan hanya pendidikan formal di sekolah-sekolah, tetapi juga pendidikan informal yang menjadi landasan budaya sebuah bangsa. Menjadikan masyarakat terdidik dapat dilihat dari budaya bahagia suatu negara, sebuah masyarakat beretika tempat setiap orang berempati dan menghargai satu sama lain. Tempat rasa aman dan nyaman tidak menjadi sebuah kemewahan seperti yang kita rasakan saat ini.

Menjadikan sebuah masyarakat terdidik bukanlah semata-mata tanggung jawab pemerintah. Tetapi seluruh warga harus turut serta dalam prosesnya. Menularkan energi positif dan belajar satu sama lain menjadi sebuah kebutuhan. Bukankah setiap orang itu guru, setiap tempat itu sekolah, dan setiap saatnya adalah pelajaran?Mahalkah harga yang harus kita bayar untuk menjadikan negara kita negara yang bahagia-sejahtera penuh senyum? Mahal atau tidaknya akan menjadi relatif bagi setiap orang, bagi setiap kelompok masyarakat. Tetapi mungkin kita dapat merefleksikan jawaban tersebut dengan pertanyaan lain, seberapa besarkah anda membuat orang-orang di sekitar tersenyum dengan menjadi warga yang beretika dan memberikan energi positif?

Percayalah, bila kita memberikan senyuman kita pada dunia dengan karya-karya dan energi positif kita, dunia akan tersenyum pada kita.




*tulisan oleh-oleh dari pelatihan "Menulis Itu Asyik" - KAIL

Komentar

Postingan Populer