hari yang bisu.
kemarin bibirku memang bisu, tapi hatiku tidak. ia bersikeras melantunkan kekata doa, dan mengirimkannya padamu. berharap mereka mengetuk pintumu seraya melempar sapa. berharap setelahnya, mereka pulang membawa senyummu.
hari ini bibirku memang bisu, tapi hatiku tidak. ia sibuk memotong senyummu berkepingkeping, sehingga bisa kukunyah perlahan satu demi satu. setelahnya, berharap kamu mengetuk pintuku seraya mengantarkan kembali senyum yang sama.
entah besok, lusa, atau harihari kemudian.
berharap ia akan tetap diam dan tersenyum meski tak bisu. mungkin karena terlalu banyak senyum untuk dibagi. mungkin pula karena terlalu banyak kisah yang tecerna bersama waktu.
mungkin.

hatiku tak juga akan pernah bisu
BalasHapus