untuk bangsaku.
67 tahun sudah Indonesia merdeka.
Apakah itu kemerdekaan?
Benarkah kita sudah merdeka?
Lalu saya membandingkan dengan apa yang dialami teman-teman kecil saya saat merayakan Kemerdekaan Indonesia tahun kemarin di sekolah. Untuk saya pengalaman ini begitu berharga, terutama dalam karena beberapa waktu lalu sempat membahas dengan sahabat saya, Puti, tentang membangun rasa nasionalisme pada anak-anak.
Momen kemerdekaan tahun lalu saya manfaatkan untuk menggali kepenasaranan saya tentang kedalaman teman-teman kecil saya (4 SD) memahami arti kemerdekaan dan nasionalisme. Saat rutin pagi, saya bercerita tentang Kebo Iwa, salah seorang panglima militer Bali pada awal abad ke-14. Cerita singkatnya, panglima yang masih muda itu digambarkan sebagai pemuda yang mengusai seni perang. Mahapatih Majapahit, Gajah Mada, memandang Kebo Iwa sebagai salah satu penghalang Majapahit untuk menguasai Bali. Untuk itu Gajah mada melakukan tipu muslihat dengan menghadap raja Bali dan menawarkan perdamaian. Ia mengundang Kebo Iwa untuk datang ke Majapahit dan dinikahkan dengan seorang putri dari Lemah Tulis sebagai tanda persahabatan antar kedua kerajaan. Namun sesampainya di Majapahit, Kebo Iwa kemudian dibunuh. Wafatnya Kebo Iwa ini mempermudah dikuasainya Bali pada tahun 1343.
Setelah saya bercerita, saya bertanya kepada teman-teman kecil saya, apa yang akan mereka lakukan bila mereka menjadi Kebo Iwa. Sebagian dari mereka merefleksikan Majapahit sebagai Indonesia, dan berdamai adalah hal yang ingin mereka lakukan karena mereka ingin Indonesia itu 'utuh' sebagai negara kesatuan. Ada juga yang menempatkan Bali sebagai Indonesia dan Majapahit sebagai penjajah, sehingga mereka bersikukuh tidak ingin menyerah walaupun kesannya 'berdamai'. Dari cerita ini, saya menangkap bahwa mereka paham tentang bela negara!
Di lain waktu, saya juga bertanya apakah menurut mereka upacara bendera itu penting. Sebagian dari mereka mengatakan upacara tidak penting dan membosankan karena hanya berdiri dan diam. Lalu dibahas pula bahwa kalau kita tidak merdeka, kita terpaksa upacara sesuai dengan tata cara negara yang menjajah. Ada yang mengatakan, upacara itu untuk menghormati jasa pahlawan yang sudah gugur pada peperangan demi kemerdekaan. Malah ada anak yang spontan berpendapat, "Kan kita ngga perlu perang bertahun-tahun, masa berdiri 15 menit aja ngga bisa?"
Kemudian, saya memberikan satu lembar kerja tentang lagu "Indonesia Raya". Lembar kerja ini menjadi salah satu lembar kerja favorit saya, dan tahun sebelumnya pernah saya berikan juga untuk murid-murid saya (juga kelas 4 SD). Saya tidak hanya memberikan versi yang biasa dinyanyikan, tetapi juga memberikan bait kedua dan ketiga dari lagu tersebut. Sebagian besar dari mereka tidak tahu bahwa ternyata ada bagian dari lagu kebangsaan kita yang mereka tidak tahu, dan beberapa dari mereka menceletuk, "Kak, lagu kebangsaan kita keren banget, ya!" Setelah saya berikan teks lagu tersebut, saya memberikan beberapa pertanyaan.
Melibatkan emosi atau rasa untuk saya adalah hal yang pertama ingin saya gali. Untuk itu saya menanyakan perasaan mereka ketika menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya". Saya juga menanyakan mengapa kita harus bersikap khidmat ketika menyanyikan lagu kebangsaan. Saya pun meminta pendapat mereka, bagian/lirik dari lagu “Indonesia Raya” yang paling berkesan juga alasannya. Karena ada kalimat "Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia!", saya kemudian meminta mereka untuk membuat sebuah doa, puisi, atau harapan untuk kebahagiaan Indonesia. Sungguh, apa yang mereka ungkapkan pada lembar jawabannya membuat saya sangat terharu.
Selain itu, kami semua di sekolah mengumpulkan kaus polos bewarna gelap, untuk kemudian dijahitkan kain merah putih pada kaus bagian dadanya. Untuk teman-teman yang di kelas kecil (TK-SD2), kain merah putihnya memang dijahitkan oleh guru kelasnya (karena alasan keamanan dan efektivitas waktu). Tapi sisanya, setiap anak menjahit sendiri secarik kain merah dan secarik kain putih. Untuk membangun suasanya, saya perdengarkan lagu "Indonesia Raya" versi lama dan baru, juga lagu "Berkibarlah Benderaku". Biarpun tidak rapi, yang penting mereka merasakan sendiri bagaimana menjahit merah putih pada baju yang kemudian akan mereka kenakan saat upacara. Saat mengenakan, terlihat raut penuh kebanggaan dari wajah mereka.
Saat upacara peringatan Kemerdekaan Indonesia, sekolah kami memasang kain merah putih besar dengan satu bagian yang sengaja disobek. Lalu secara simbolis salah seorang anak menjahit sobekan tersebut. "Indonesia sedang terluka, marilah kita (generasi muda) yang menyembuhkannya"
Rasa kebangsaan bukanlah rasa yang begitu saja bisa ditanam dan langsung bertumbuh pada mereka. Tapi kami optimis dengan apa yang kami coba tanam dan pupuk dari hal-hal tersebut. Akankah rasa itu kemudian tumbuh subur atau menjadi layu, akan kembali pulang pada diri masing-masing. Selebihnya, kita dapat menilai sendiri mana yang lebih membangun rasa nasionalisme mereka, dengan hafalan pada mata pelajaran ataukah dengan menggali serta mengasah rasa mereka terhadap bangsanya?
Banyak cara untuk memaknai kemerdekaan ini, termasuk teman-teman kecil saya yang saling berbagi pemaknaan tersebut. Belajar dengan sungguh-sungguh karena bisa memiliki 'kebebasan' untuk belajar adalah hadiah dari para pahlawan yang sudah rela berjuang di peperangan salah satunya. Ah, pengalaman ini mungkin tidak hanya mengasah rasa mereka, tapi juga menyadarkan saya, bahwa di sekitar dan di hadapan saya masih banyak anak-anak yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin hebat untuk rakyatnya, untuk bangsanya. Semoga :)
Dirgahayu Indonesiaku!!
Untuk yang belum tahu teks lengkap "Indonesia Raya", saya sertakan juga di bawah ini, ya!
Indonesia Raya
Cipt.: W.R. Supratman
1.
Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku. Marilah kita berseru, “Indonesia bersatu!”
Hiduplah tanahku, hiduplah negriku. Bangsaku, rakyatku, semuanya.
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Untuk Indonesia raya
Reff. (dinyanyikan dua kali)
Indonesia raya, merdeka, merdeka. Tanahku negriku yang kucinta.
Indonesia raya, merdeka, merdeka. Hiduplah Indonesia raya!
2,
Indonesia, tanah yang mulia, tanah kita yang kaya. Di sanalah aku berada untuk s’lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka, pusaka kita semuanya. Marilah kita mendoa, “Indonesia bahagia!”
Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya. Bangsanya, rakyatnya, semuanya.
Sadarlah hatinya, sadarlah budinya. Untuk Indonesia Raya.
(Reff.)
3.
Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti. Di sanalah aku berdiri menjaga ibu sejati.
Indonesia tanah berseri tanah yang aku sayangi. Marilah kita berjanji, “Indonesia abadi!”
S’lamatlah rakyatnya, s’lamatlah putranya. Pulaunya, lautnya, semuanya.
Majulah negrinya, majulah pandunya. Untuk Indonesia Raya.
(Reff)


Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..