seni, hiburan, dan sinetron.
"Apakah ada yang tahu apa bedanya 'seni' dan 'hiburan'? Apakah tayangan televisi (seperti sinetron) termasuk seni?"
Dhitta Puti Sarasvati
Ingin sekali saya menjawab pertanyaan sahabat saya di sebuah jejaring sosial. Sebagai sesama pendidik, dan berada di lingkungan pendidik, topik ini memang sering menjadi bahasan bersama. Mengapa? Dalam keseharian kita sering bertemu anak didik yang sebenarnya bukan pangsa pasar sinetron tetapi menjadi korban. Tampaknya terlalu panjang untuk sebuah 'komentar' dan saya memutuskan untuk menuliskannya di sini.
Seperti biasa, ketika saya menghadapi sebuah pertanyaan seperti di atas, saya terbiasa (atau membiasakan?) diri untuk melihat kembali akar katanya. KBBI menjadi pelarian pertama saya untuk mencari jawabannya. Ada tiga kata yang menjadi inti dari pertanyaan, yaitu seni, hiburan, dan sinetron.
seni n 1 keahlian membuat karya yg bermutu (dilihat dr segi kehalusannya, keindahannya, dsb); 2 karya yg diciptakan dng keahlian yg luar biasa, spt tari, lukisan, ukiran; seniman tari sering juga menciptakan -- susastra yg indah;
hiburan n sesuatu atau perbuatan yang dapat menghibur hati (melupakan kesedihan dsb): taman ~ rakyat
sinetron n film yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronik, seperti televisi;Dari Wikipedia, seni diartikan sebagai
“…the product or process of deliberately arranging items (often with symbolic significance) in a way that influences and affects one or more of the senses, emotions, and intellect. It encompasses a diverse range of human activities, creations, and modes of expression, including music, literature, film, photography, sculpture, and paintings. The meaning of art is explored in a branch of philosophy known as aesthetics, whereas disciplines such as anthropology, sociology and psychology analyze its relationship with humans and generations.”Apakah sinetron ini termasuk seni?Menurut saya, sinetron bisa saja menjadi sebuah karya seni audio visual, bila dibuat dengan sebuah keahlian dan memiliki kualitas tertentu sehingga kita bisa mengatakan sinetron itu bermutu. Saya sependapat dengan pendapat teman saya, Riswan, bahwa seni itu terlalu abstrak. Lalu karena alasan itu banyak yang kemudian berlindung dibalik kata seni. Untuk saya seni itu benda yang nyata/tak nyata, tidak jelas, hanya yang pasti seni ini sebuah olahan rasa (estetika). Apakah akan menjadi pendangkalan makna seni itu sendiri? Saya tidak tahu.
Apakah sinetron ini menghibur? Selain untuk berekspresi, salah satu tujuan seni adalah untuk menghibur. Lalu kita beranjak ke sinetron : siapa bilang sinetron itu tidak dapat menghibur? Tapi jujur, saya bukannya terhibur dengan sinetron-sinetron 'mainstream' yang ada sekarang. Saya tidak kuat menontonnya. Ceritanya dibuat-buat, dengan akting yang instan karena kejar tayang sehingga menjadi akting ekstrim yang tidak wajar. Penokohan yang tidak diolah dengan baik. Yang jahat terlalu jahat, yang baik terlalu baik. Hitam dan putih. Dan tidak ada orang yang sehitam atau seputih itu di dunia nyata.
Terus terang saya sedih bila melihat ada anak-anak yang begitu mudahnya menyalin rupa yang 'instan' dari sinetron : marah berlebihan, tertawa berlebihan. Atau bila mereka menyalin mentah-mentah kata-kata kasar yang sering kali tidak tersaring di sinetron. Tetapi apa mau dikata? Terkadang tidak ada yang mengawasi tontonan anak-anak di rumah karena ayah ibu sibuk bekerja, dan mereka ikut menonton acaranya 'si mbak'. Bukannya menuduh, tapi ini banyak terjadi :)
Beberapa tahun lalu, saya masih menikmati beberapa sinetron yang saya anggap bermutu. Dulu, waktu saya kecil banyak sinetron yang berkualitas. Keluarga Cemara. Sahabat Pilihan. Rumah Masa Depan. Jendela Rumah Kita. Buku Harian. Tiga Perempuan. Masih ada beberapa lagi yang lain, tetapi sinetron-sinetron itulah yang sangat terekam dalam ingatan saya, ingatan pikiran, dan ingatan rasa. Mengapa? Karena banyak nilai-nilai yang saya dapatkan di sana.
Tiga perempuan, misalnya. Saya menontonnya bersama (almh.) ibu saya waktu itu. Pada sinetron itu tersajikan realitas-realitas yang dekat dengan kehidupan saya. Tiga orang perempuan dari generasi yang berbeda. Eyang putri, ibu, dan saya. Kita semua dibenturkan pada satu nilai budaya baik budaya yang diturunkan (tradisi) maupun budaya yang terus berkembang sesuai dengan jamannya. Tidak mudah untuk dapat memahami kesenjangan yang ada di sana.
Contoh lain, Sahabat Pilihan dan Keluarga Cemara. Film tersebut menyajikan realitas kehidupan sehari-hari yang banyak membuka ruang diskusi dan pendidikan nilai. Tentang persahabatan, perjuangan, ketulusan, dan banyak hal lain yang saya kira perlu kita olah sebagai manusia si makhluk sosial.
Lalu ke mana sinetron-sinetron berkualitas itu sekarang? Kalau belum mampu menayangkan sinetron itu, mengapa tidak menayangkan ulang saja sinetron yang pernah ada tersebut? Tidak perlu susah-susah membuatnya, kan? Atau, apakah menurut produser stasiun TV, sinetron-sinetron berkualitas jaman dulu tersebut tidak cukup menghibur penonton jaman sekarang? Apakah budaya yang ada sekarang membelokkan selera penonton sehingga 'malas' untuk mencerna tontonan yang tidak sekadar menghibur tetapi juga mendidik?
Kemudian kita bisa melakukan apa?
Situasi ini tentunya menjadi salah satu olahan lanjut para orang tua, baik orang tua di rumah (ayah-ibu) dan orang tua di sekolah (para guru). Jadikan apapun yang menjadi tontonan anak untuk mengajari mereka apa yang sebaiknya mereka lakukan, dan apa yang tidak. Juga mungkin mengajak anak-anak di sekolah menjadi penonton yang bisa memilah mana yang sebaiknya ditonton, mana yang tidak.
Terlalu muluk kah?
Kembali ke pertanyaan semula, yang akan aku persempit wilayahnya menjadi wilayah konsumsi anak-anak. Apakah sinetron itu termasuk seni yang bisa dianggap sebagai sebuah pewajaran bentuk hiburan anak-anak masa kini? Selama sinetron tersebut mengandung unsur-unsur kekerasan dan hal-hal yang belum sesuai untuk dicerna anak-anak, sinetron bukan sebuah hiburan. Ia menjadi sebentuk makhluk perusak yang akibatnya cukup sulit untuk dibenahi.
Saya tidak tahu, apakah tulisan saya ini menjawab pertanyaan pembuka atau tidak. Tapi setidaknya memaksa saya untuk satu langkah maju mengolah kondisi ini. Dan tentunya, pertanyaan serta jawabannya akan terus berkembang. :)
Bagaimana menurut anda?

Mbak Danti, terima kasih yah tulisannya. Aku teruskan yah... Aku bawa coklat digestives loh...
BalasHapusterima kasih kembali :D boleh, silakan diteruskan selama bisa memberikan manfaat :) asiik...asiiik.. makasih juga choc digestivenya :D eh, kapan ke bandung?
BalasHapuskabarnya Ali Shahab akan produksi lagi Rumah Masa Depan - next generation. Semoga tetap membawa gaya seperti generasi yang lalu ya, untuk menyejukkan kehausan kita akan tontonan yang bermutu.
BalasHapuswaaahh.. betul, Rumah Masa Depan! Minggu siang! :) amiin...
BalasHapus