menyalin rupamu.
semula hatiku mengira rupamu adalah kabut. menyapu pagi dan menguap saat terik hingga tak berbekas pada gelap malam, pun dalam mimpi.
tapi, ternyata aku salah. aku tak ingat kapan hati ini mulai menyalin garisgaris sebuah rupa yang sudah tertulis pada benak belasan tahun lalu.
mungkin ketika aku lengah, hati ini mengubah garis wajah menjadi degup. yang kemudian tercerna serabutan menjadi kelebat lalulalang bayang.
dan ketika itu pula, suaramu seakan menjadi riuh desih angin yang bergesekkan. dalam satu dua kelebat, sibuk menyambar lamunan kosong.
lalu, pada lenganlengan waktu yang terus bekerja aku bergantung. menunggu ketetapan atas baitbait rupamu. akankah terpahat sempurna ataukah terhapus oleh garis rupa yang lain?
tapi, ternyata aku salah. aku tak ingat kapan hati ini mulai menyalin garisgaris sebuah rupa yang sudah tertulis pada benak belasan tahun lalu.
mungkin ketika aku lengah, hati ini mengubah garis wajah menjadi degup. yang kemudian tercerna serabutan menjadi kelebat lalulalang bayang.
dan ketika itu pula, suaramu seakan menjadi riuh desih angin yang bergesekkan. dalam satu dua kelebat, sibuk menyambar lamunan kosong.
lalu, pada lenganlengan waktu yang terus bekerja aku bergantung. menunggu ketetapan atas baitbait rupamu. akankah terpahat sempurna ataukah terhapus oleh garis rupa yang lain?

Jangan disalin, Mbak Dan, digambar dengan interpretasi baru aja =D
BalasHapushahaha.. digambar pake otak apa hati enaknya de? :p
BalasHapus