sadar.

Terkadang aku, sebagai manusia, lupa. Lupa kalau dirinya bernafas. Lupa kalau dirinya berpikir. Lupa kalau dirinya punya hati. Tarikan nafas, pikiran yang meloncat-loncat, bahkan rasa yang keluar lewat begitu saja. Dan kemudian, waktu seperti berlalu begitu saja. Waktu itu seperti alkohol, menguap dalam sekejap.

Hati berbaju kesadaran tidak mengenal penyesalan, emosi yang mengenalnya. Kalimat itu sempat menjadi pemanis halaman facebook, juga status di YM. Beberapa orang menanggapinya.

"Ah, lu mah Dan, yang namanya manusia pasti pernah menyesal"

"Wah..berat banget status lu.. terlalu sufistik"

Hm.. entah juga angin apa yang lewat waktu aku menulis kalimat itu. Yang aku rasakan, ketika kita berikhitar dengan mendengarkan kata hati -bukan emosi- dengan kesadaran penuh, yang mungkin aku artikan menggunakan pikiran dan kita sadar bahwa kita tengah mencerna apa yang ada, maka selebihnya let it be. Wallahu alam. Kalau sampai hasilnya tidak yang kita inginkan, ya sudahlah.. Berarti memang kita harus mengalaminya. Dan yang lebih penting belajar dari apa yang telah lalu. Menyesal? Sepertinya kata itu kurang pas kalau disandingkan di situ. Ikhlas. Mungkin ini lebih tepat. Ikhlas pada yang terjadi, setelah melakukan sesuatu semaksimal mungkin. Jangan lupa, yang penting didasari niat yang baik, apa yang dilakukan juga baik dan tidak merugikan sekeliling kita.

Kalau sadar tapi tetap menyesal gimana? Kalau sadar, dan benar-benar sadar, pasti semuanya sudah diperhitungkan atau diantisipasi. Jadi kalau sampai ada kesalahan, ya..ambil saja hikmahnya. Lain kali harus lebih baik lagi. Lain kali tidak mengulang kesalahan yang sama. Kalau mau berubah tidak harus melalui penyesalan kan. Kalau masih juga menyesal, mungkin kita belum sepenuhnya sadar dengan apa yang kita pikirkan dan putuskan.

Sebagai manusia, wajar untuk masih memiliki penyesalan. Kesalahan hanya milik manusia karena manusia tidak ada yang sempurna bukan? Jadi ketika kita merasa sudah semua dipikirkan dan diperhitungkan, masih aja ada yang terlewati. Tetapi aku mencoba untuk ikhlas terhadap apa yang telah pilihan. Karena apa yang terjadi bukan sepenuhnya kuasa kita. Ada ‘Invisible Hand’ yang bercampur tangan di situ. Selama yang terjadi benar-benar di luar kuasa kita, aku mencoba untuk mengikhlaskannya. Kalau yang terjadi di luar dugaan karena Sang ‘Invisible Hand’, ya berarti itu ujian untuk kita untuk bisa lebih baik. Mungkin kalau ujian, ada soal tambahan yang bisa memberi nilai tambah, atau loncat kelas kali ya?


Emosi tidak jarang mengelabui pikiran untuk mengatasnamakan hati. Terkadang memang sulit memisahkan mana yang datang dari hati, mana yang datang dari emosi. Dan ketika ditanya, "Gimana caranya memisahkan mana yang datang dari hati, mana yang datang dari emosi?" Aku pun masih belajar untuk mengenal hati dan emosi lebih baik.

Telinga harus dipasang juga di hati, bukan hanya di samping rata dengan mata. Karena terkadang kita tuli mendengarkan suara hati. Riuh keramaian menutup telinga kita dari suara kita. Baru satu yang aku sadar, aku sering melupakan diri. Jarang untuk mendengarkan diri sendiri. Melupakan desahan nafas yang keluar masuk setiap hari menemani kita, padahal tanpa mereka aku tiada. Lupa mendengarkan betul apa yang dipikirkan, padahal setiap saat mereka bekerja keras. Lupa mendengar darah mengalir. Lupa mendengar badan yang terlalu lelah karena dipaksa bekerja keras. Mereka berteriak butuh didengar dan diperhatikan. Tapi aku terlalu lalai.


Maafkan.

Komentar

Postingan Populer