[catatan diri] konflik dan harapan.
Bulan April dan Mei adalah bulan-bulan "roller-coaster" untuk saya. Saat semua (terlihat) seperti ombak besar dan angin ribut. Saat setiap yang berada di kepala jadi penat dan pening. Tapi tak apa, alhamdulillah semua terlewati dengan seru. Musimnya mereda di bulan berikutnya, bulan yang membuat saya banyak mencatat untuk diri, walaupun masih banyak hal yang perlu dicerna hingga sekarang. Mudah-mudahan catatan bulan ini benar-benar menjadi bekal untuk melalui ombak dan angin ribut berikutnya, bila datang lagi meskipun tidak diinginkan.
Banyak sekali yang ingin diabadikan sebagai catatan diri, tapi ternyata hati dan pikiran ini masih terlalu 'sibuk' untuk mengolahnya karena sering kali merasa mencerna sesuatu yang abstrak tapi maknanya dalam. Hati dan pikiran juga masih mencerna hal yang perlu sekadar 'diiyakan' saja, hal yang masih perlu digali lagi maknanya. Tidak bisa mencernanya sekaligus karena terlalu banyak. Setidaknya diendapkan dahulu, kemudian diambil sarinya dalam bentuk kata-kata. Semoga satu per satu akan terurai seiring dari munculnya kembali catatan di roemah kajoemanis ini.
Kadang kita kesal dengan seseorang karena kita menganggapnya tidak komunikatif karena tidak membuka ruang untuk duduk bersama membicarakan satu masalah. Seorang teman mengingatkan saya, bahwa komunikasi itu tidak selamanya verbal. Komunikasi adalah pesan yang disampaikan, walaupun dalam diam. Pesan juga dapat disampaikan dari gestur, dan keputusan akan bersikap. Komunikasi bisa saja datang satu arah, dan tidak peduli dengan bagaimana orang lain menangkapnya. Salah satu contohnya iklan. Yang dua arah itu interaksi. Dalam interaksi kita sering menaruh harapan pada lawan bicara kita. Harapan bercampur dengan pesan dari pihak lawan dan olahan pesan di otak kita, bersatu menjadi persepsi.
Hal yang perlu saya ingat adalah pesan itu tidak selamanya tersampaikan sempurna. Bisa karena pihak yang menyampaikan tidak dapat mengemas pesan dengan baik, atau juga kita yang mendengarnya tidak mencerna dengan baik. Ketika pesan (yang dimaksud) berbeda dengan persepsi yang timbul dari harapan kita, jadilah konflik.
Jadi, saya harus betul-betul mengingat apa yang disampaikan teman saya, "Mengelola konflik adalah mengelola harapan."

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..