curhat sebelum pilkada.


Setiap jalan ke pasar –atau kapanpun lewat tempat itu-, hati ini rasanya berontak. Pengen marah, tapi ngga bisa ngapa-ngapain. Sebuah universitas –yang katanya tempat mendidik manusia-manusia menjadi manusia yang lebih beradab dan berakal- di bilangan Dipati Ukur, akan memperluas kampusnya di sebuah lahan. Spanduknya udah dipasang dari beberapa minggu ini. Sampai saat ini memang belum terlalu kelihatan, lahan itu mau buat apa. Tapi kemungkinan besar ada 2. Entah buat bangunan baru, atau dikerasin untuk lahan parkir. Dua-duanya tetap saja bikin gregetan. Berkurang lagi lahan-lahan resapan air.

Hohoho, semakin menggila saja pembangunan di Bandung ini. Bukan memajukan tapi malah memundurkan peradaban. Hellooooooo, sampai kapan si Bandung seperti ini? Masih saja rakyat kita ngga bisa apa-apa. Rakyatnya bungkam walaupun sudah berpuluh-puluh tahun dijajah penguasa negri, masih juga diam dan masih juga mau dijajah. Atau memang sistem membuat rakyat tidak peduli, apatis dengan keadaan sekitar? Atau kalaupun hatinya berontak hanya bisa ngedumel, karena ngga tau bisa apa (*mungkin seperti aku yang hanya bisa gregetan, dan ngomel-ngomel di blog, hahahahha*).

Hoho, untuk kasus ini aku bertanya satu hal. Kemanakah larinya Peraturan Koefisien Dasar Bangunan? Peraturan itu penyelamat tanah kita, air kita, keberlangsungan hidup kita. Ke manakah orang-orang yang selama ini katanya mengabdi pada masyarakat? Tampaknya kata-kata manis penuh pengabdian itu hanya tertulis dalam slogan-slogan kampanye pemilihan. Janji-janji tinggal janji, dan ngga pernah terdengar, yang namanya laporan pertanggungjawaban itu ditolak, atau diadili, atau apapun, karena kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan selama masa ‘pengabdian’ itu malah merusak kota dan masyarakatnya. Kata-kata indah selama kampanye hanya berubah menjadi wacana klise yang terus dipertanyakan. Dipertanyakan diri masyarakatnya, tanpa bisa melakukan aksi. Atau mereka ngga tau mau melakukan aksi apa.

Jadi kaya apa ya Bandung 10 atau 20 tahun mendatang? Ngga ada air, dan hanya ada satu peraturan. Hukum rimba. Siapa kuat siapa menang. Mungkin sudah ngga keliatan seperti kota lagi. Rumah, mal, kantor, pedagang kecil-besar, sampah, kampus, sekolah, semua jadi satu. Tumplek berantakan ngga keruan. Kaya kapal pecah, kaya kamar berantakan.

Satu omelan ini mungkin hanya sebagian keciiilll dari setumpuk masalah yang ada di Bandung.
Kapan ya, dumelan masyarakat itu bisa menjadi aksi nyata?
Kapan ya, orang-orang yang berkuasa itu bisa membangun peradaban?

salah satu PR  untuk walikota berikutnya...:)

Komentar

Postingan Populer